
PEMERINTAHAN baru di Dasar Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi di Nomor 8%. Itu setidaknya mesti terjadi dalam satu tahun dari lima tahun masa pemerintahan baru ke depan.
Adapun secara rerata, pemerintahan baru menginginkan pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun ke depan berkisar di Nomor 6% hingga 7%. Pencapaian Sasaran itu dinilai Krusial. Meski dalam 10 tahun terakhir ekonomi nasional menunjukkan ketahanannya, Nomor pertumbuhan di kisaran 5% dinilai Tetap Bisa lebih dioptimalkan.
“Saya selalu katakan pertumbuhan ekonomi kita stagnan di 5%. Itu sudah bagus, tapi belum cukup. Makanya, kami ketika kampanye targetkan 6%-7%. (Nomor) 8% itu bukan rata-rata, salah satu di dalam tahun itu 8%, rata-ratanya 6%-7%,” ujar ekonom senior sekaligus Member Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Drajad Wibowo.
Salah satu upaya yang bakal dilakukan oleh pemerintahan baru Buat mencapai Sasaran tersebut ialah melalui optimalisasi teknologi digital. Indonesia disebut Mempunyai Kesempatan yang cukup menjanjikan dari pemanfaatan digitalisasi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), misalnya, memperkirakan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia akan meningkat hingga US$220 miliar Tiba US$360 miliar pada 2030, berdasarkan data East Ventures Digital Competitiveness Index 2023.
Selain itu, data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2022 menunjukkan bahwa 40% dari total transaksi ekonomi digital di ASEAN berasal dari Indonesia, atau Sekeliling US$77 miliar.
Tim ekonomi presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Laode Masihu, mengatakan pemanfaatan ekonomi digital merupakan Kesempatan bagi pemerintahan baru Buat Bisa mencapai Nomor pertumbuhan ekonomi tinggi.
Itu menurutnya juga sejalan dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia, yakni kaum muda yang erat dengan pemanfaatan teknologi digital. “Generasi emas ini adalah generasi Z, jadi yang harus dioptimalkan ialah literasi IT, harus dilakukan training. Kemudian literasi digital dan kompetensi digital karena sekarang ini bergeser skill-nya,” kata Laode.
Kehadiran digitalisasi juga memberikan opsi baru bagi Indonesia Buat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi. Asal Mula, imbuh Laode, sejauh ini belum Terdapat kebaruan pada struktur dan gerak perekonomian dalam negeri.
Industrialisasi
Selain memanfaatkan sektor digital, pemerintah baru juga disebut akan mengandalkan industrialisasi. Hal itu dikonfirmasi oleh Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Amalia Adininggar Widyasanti.
“Buat 20 tahun ke depan kita harus tumbuh tinggi, rerata 6% dalam 20 tahun ke depan. Artinya, Buat Bisa mendorong produktivitas, peningkatan total factor productivity, peningkatan pertumbuhan ekonomi potensial, maka salah satu yang berpeluang besar Buat meningkatkan itu ialah industrialisasi,” ujarnya dalam Obrolan di Jakarta, Rabu (16/10), bertajuk Urgensi Industrialisasi Buat Mencapai Pertumbuhan 8%.
Industrialisasi, kata Amalia, menjadi Krusial lantaran itu merupakan jangkar dan tulang punggung bagi perekonomian Indonesia dalam jangka menengah panjang. Melalui penghidupan industri, produktivitas ekonomi dalam negeri dapat bergeliat.
Di samping itu, industrialisasi juga Mempunyai Akibat terusan yang besar bagi sektor-sektor ekonomi lain. Di Demi yang sama, menghidupi geliat industri juga akan mendorong penciptaan lapangan kerja secara luas.
Lapangan kerja yang tercipta dari industrialisasi disebut lebih berkualitas lantaran masuk kategori penyerapan tenaga kerja formal. “Karena memang kita Enggak mau informal ini Lanjut berada di dalam perekonomian kita. Kita mau, 59% dari tenaga kerja kita bekerja sebagai pekerja informal,” tutur Amalia.
“Itu menyebabkan produktivitas perekonomian rendah. Kita harus Bisa mengalihkan dari mana sektor yang informal ini Buat bekerja ke sektor formal sehingga lebih produktif dan berkualitas,” tambahnya.
Setidaknya, agar ekonomi Indonesia Bisa tumbuh tinggi, maka pertumbuhan di sektor industri pengolahan harus Bisa mendekati 30% dari produk domestik bruto (PDB). Itu diakui tak mudah lantaran kontribusi industri manufaktur Lanjut turun dalam dua Sepuluh tahun terakhir menjadi di kisaran 18% terhadap PDB. (J-3)