Latar belakang sejarah Cape Verde menambah keunikan tersendiri pada kisah ini. Negara ini merupakan sebuah kepulauan yang terdiri dari sepuluh pulau yang terletak di Samudra Atlantik, Sekeliling 450 kilometer dari pantai barat Afrika.
Kepulauan ini berada di Dasar kekuasaan Portugal selama berabad-abad dan pernah menjadi pusat perdagangan budak yang Krusial, sebelum akhirnya memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1975. Jumlah penduduknya hanya Sekeliling 530 ribu jiwa, menjadikannya negara terkecil ketiga yang lolos ke putaran final Piala Dunia, setelah Curaçao dan Islandia.
Tetapi, negara ini menjadi negara terkecil dalam sejarah yang berhasil mencapai babak gugur Piala Dunia, mengalahkan rekor yang selama ini dipegang oleh Irlandia Utara sejak tahun 1958.
Sebaliknya, Argentina tampak seperti negara raksasa dalam segala hal. Negara ini membentang di Distrik seluas Sekeliling 2,8 juta kilometer persegi, Mempunyai lebih dari 46 juta penduduk, dan merupakan negara terbesar kedua di Amerika Selatan setelah Brasil, sementara Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai Sekeliling 683 miliar dolar AS, dibandingkan dengan hanya Sekeliling 3 miliar dolar AS Demi Cape Verde.
Secara teori, Sekalian indikator tampak menguntungkan Argentina. Sejarah, gelar Juara, pengalaman, nilai pasar, kualitas pemain, dan kedalaman skuad—semuanya memberikan Kelebihan telak bagi Juara dunia ini sebelum peluit kick-off dibunyikan.
Tetapi, sepak bola telah berulang kali membuktikan bahwa olahraga ini Enggak hanya bergantung pada perhitungan semata. Cape Verde berhasil mencapai tahap ini setelah membalikkan Sekalian prediksi dan berhasil menghentikan tim-tim yang lebih berpengalaman dan berpotensi, sehingga menegaskan bahwa mereka bukan sekadar tamu kehormatan di turnamen ini.
Pertanyaan yang tetap menggantung menjelang dimulainya pertandingan: Apakah tim “Hiu Biru” akan Lanjut menulis salah satu kisah terhebat dalam sejarah Piala Dunia, ataukah Lionel Messi dan rekan-rekannya akan mengakhiri mimpi tersebut dan menegaskan bahwa sejarah tetap menjadi penentu akhir ketika raksasa Bersua dengan petualang?
