RILIS Badan Pusat Statistik (BPS) tentang deflasi pada awal Oktober Lampau kian bikin sesak hati masyarakat. Ekonomi yang cerah terasa Tetap jauh dari pelupuk mata.
Bagaimana Bukan, BPS menyebut negeri ini tengah mengalami deflasi lima bulan berturut-turut. Dimulai dari Mei 2024 dengan deflasi sebesar 0,03%, berlanjut ke Juni 0,08%, Juli 0,18%, Agustus 0,03%, dan terakhir September 0,12%.
Sejumlah ekonom mengatakan deflasi itu terjadi akibat Maju turunnya daya beli masyarakat. Bukan hanya Golongan masyarakat Dasar, kini daya beli yang makin menipis itu sudah menjangkau masyarakat menengah, yakni Golongan yang disebut pemerintah jadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Baca juga : Perlu Regulasi Larang Mudik
Di tengah pendapatan mereka yang tak naik, Golongan menengah kini Bukan dapat berbuat banyak selain membelanjakannya Buat hal-hal yang prioritas. Golongan ini kini sekuat tenaga mengerem konsumsi agar pendapatan mereka cukup Buat hidup sebulan.
Loyonya daya beli itu tergambar dari indeks harga konsumen (IHK) yang juga dirilis BPS. Dari bulan ke bulan, IHK Maju turun, dari 106,37 pada Mei 2024 menjadi 105,93 pada September 2024.
Kondisi itu pun direspons pengusaha dengan mengurangi aktivitas produksi mereka. Pabrik-pabrik kini Bukan berani berproduksi banyak, khawatir barang mereka tak banyak yang beli.
Baca juga : Mencegah LP dari Covid-19
Data purchasing manager’s index (PMI) manufaktur Indonesia yang dikeluarkan S&P Mendunia menunjukkan manufaktur Indonesia terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Dengan skor di Dasar 50, PMI manufaktur Indonesia masuk Area kontraksi mulai Juli 2024 dengan skor 49,3, Agustus 48,9, dan September yang hanya naik tipis menjadi 49,2. Lesunya industri manufaktur itu bahkan menimbulkan kekhawatiran lain, yakni Maju berlanjutnya gelombang PHK para pekerja pabrik.
Tergerusnya daya beli masyarakat ke titik nadir juga ditunjukkan oleh data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menyebut saldo rata-rata Golongan rekening dengan saldo di Dasar Rp100 juta pada Juni 2024 mencapai Rp1,5 juta. Nomor itu anjlok Apabila dibandingkan dengan di 2019 yang mencapai Rp3 juta.
Data tersebut menunjukkan masyarakat kelas menengah kini mulai mengambil sedikit demi sedikit tabungan mereka Buat memenuhi biaya hidup sehari-hari. ‘Mantab’ alias makan tabungan, begitu orang sekarang memelesetkan kata ‘mantap’ yang artinya mestinya positif.
Baca juga : Paket Bonus Pengganti Mudik
Melemahnya daya beli masyarakat itu kian Konkret dan belum dapat dipastikan Tamat Ketika berakhir. Tetapi, Apabila dibiarkan, situasi yang sudah berlangsung berbulan-bulan itu tentu Pandai memancing gejolak kelas menengah, seperti yang terjadi Demi krisis pada 1998.
Kendati demikian, tentu saja selalu Terdapat Asa di balik kesulitan. Bank Dunia baru saja merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dalam proyeksi itu, ekonomi Indonesia Pandai tumbuh di 2024 dan 2025 pada atau di atas tingkat sebelum pandemi covid-19. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5% pada 2024 dan 5,1% pada 2025. Nomor itu tak jauh berbeda dengan pertumbuhan di periode 2015-2019 atau sebelum pandemi, yakni 5%.
Proyeksi pertumbuhan tersebut menjadi Asa segera membaiknya daya beli masyarakat. Pertumbuhan yang lebih banyak mengandalkan konsumsi tentu membutuhkan daya beli yang Konsisten atau bahkan lebih kuat Tengah. Di sini pemerintah tak boleh asal bikin kebijakan. Misalnya, demi meningkatkan pendapatan negara, pemerintah Memajukan tarif pajak dan cukai atas objek-objek yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan orang banyak.
Penaikan itu tentu saja akan menyurutkan konsumsi masyarakat di tengah pendapatan yang Tetap pas-pasan. Pemerintah juga dituntut segera Membikin formula baru agar dunia usaha kembali menggeliat. Selain perlunya mengeluarkan kebijakan-kebijakan Bonus, pemerintah juga harus berkolaborasi Serempak Bank Indonesia agar Etnis Merekah kredit tetap bersahabat dengan dunia usaha.
Tujuannya tak lain agar pengusaha mulai berani berekspansi, dan tentu saja pabrik-pabrik manufaktur yang Terdapat di dalamnya kembali beroperasi normal. Tak kalah Krusial, pabrik-pabrik padat karya yang sempat tutup dapat menyalakan Tengah mesin-mesin mereka.