KH Arif Hidayat Jelaskan Konsep dan Keutamaan Sikap Ikhlas Beramal

Sikap ikhlas dalam beramal menjadi fondasi Krusial bagi setiap muslim agar ibadahnya diterima dan terhindar dari tipu daya setan. Konsep mengenai keikhlasan ini menjadi bahasan Esensial dalam naskah khutbah Jumat yang disusun oleh Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, KH Arif Hidayat, seperti dilansir dari Sinar.

KH Arif Hidayat mengingatkan umat Islam Buat senantiasa bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan panjang usia dalam ketaatan. Ia juga mengajak jamaah Buat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Secara kebahasaan, kata ikhlas di dalam Alquran berakar dari kata kho – la – sha. Kata tersebut beserta seluruh bentuk turunannya tercatat muncul sebanyak 30 kali yang tersebar di dalam 17 surat.

Salah satu rujukan ayat Alquran yang menegaskan bahwa amal ikhlas dapat menyelamatkan Insan dari tipu daya setan terdapat dalam surat Al-Hijr ayat 39 Tamat 40. Ayat tersebut memuat dialog Iblis Ketika menyatakan tujuannya menyesatkan Insan.

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Ia (Iblis) Berbicara, “Tuhanku, karena Engkaw telah menyesatkanku, sungguh Saya akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh Saya akan menyesatkan mereka Seluruh, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”

Melalui ayat tersebut, KH Arif Hidayat menjelaskan bahwa setan bekerja secara maksimal Buat Membikin amal perbuatan Kagak baik atau dosa terlihat indah sebagai kebaikan. Tetapi, setan Kagak akan Pandai memperdayai Insan yang dianugerahi keikhlasan dalam beramal karena mereka Mempunyai penglihatan batin yang jujur.

Terkait kejernihan Menyaksikan kebenaran ini, terdapat doa ma’tsur yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir Ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 213.

وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ«الَلّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah! perlihatkanlah kepada kami sebuah kebenaran itu kebenaran dan berikanlah kami Buat mengikutinya. Dan perliahtkanlah kepada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kami Buat menjauhinya, dan jangan jadikan kesamaran yang Membikin kami tersesat. Dan jadikan kami, Imam buat orang yang bertaqwa”

Perumpamaan Susu Murni dan Kedudukan Amal

Kata ikhlas atau kho – li – shan juga digunakan Alquran surat An-Nahl ayat 66 Buat menggambarkan kemurnian susu ternak yang keluar dari perut hewan tanpa tercampur darah dan kotoran.

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

“Sesungguhnya pada hewan ternak itu Pas-Pas terdapat pelajaran bagi Anda. Kami memberi Anda minum dari sebagian apa yang Eksis dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah (berupa) susu murni yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.”

KH Arif Hidayat juga menyitir perkataan Ahli hikmah mengenai pentingnya ikhlas dalam berilmu dan beramal.

هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ اِلاَّ الْعَالِمُوْنَ وَهَلَكَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ اِلاَّ الْعَامِلُوْنَ وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ اِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ وَالْمُخْلِصُوْنَ فِىْ خَطَرٍ عَظِيْمٍ.

“Seluruh Insan akan binasa kecuali orang yang berilmu. Seluruh orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas Tetap dalam kekhawatiran yang besar.”

Niat menjadi tolok ukur Esensial sebuah perbuatan sebagaimana termaktub dalam hadits shahih Bukhari dari Sayyidina Umar bin Khattab RA.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang tergantung atas apa yang dia niatkan.”

Dalam kitab Nuzhatul Majalis karya Abdurrahman bin Abdussalam ash-Shafûriy, dikisahkan petuah Syekh Ma’ruf al-Karkhi mengenai tiga golongan orang yang beramal.

وَقَالَ مَعْرُوفْ الْكَرْخِي مَنْ عَمِلَ لِلثَّوَابِ فَهُوَ مِنَ التُّجَّارِ

“Barangsiapa beramal supaya dapat pahala, maka ia bagaikan orang yang sedang berdagang.”

وَمَنْ عَمِلَ خَوْفًا مِنَ النَّارِ فَهُوَ مِنَ الْعَبِيْدِ

“Barangsiapa melakukan sebuah tindakan karena takut neraka, ia termasuk hamba Allah”

وَمَنْ عَمِلَ لِلَّهِ فَهُوَ مِنَ الْأَحْرَارِ

“Dan barangsiapa yang bertindak karena Allah semata, ia merupakan orang yang merdeka.”

Menyembunyikan Amal Kebaikan

Orang yang ikhlas diibaratkan dalam hadits qudsi seperti tangan kanan yang memberi sesuatu tanpa diketahui oleh tangan kirinya, yang berarti amal kebaikan sebisa mungkin disembunyikan rapat-rapat.

Uwais al-Qarni, seorang tabiin yang hidup pada Era Nabi menyatakan bahwa mendoakan Kerabat tanpa sepengetahuannya lebih Berkualitas daripada berkunjung secara langsung. Hal ini dikarenakan pertemuan langsung berpotensi memunculkan sifat riya, sedangkan mendoakan secara sembunyi-sembunyi mencerminkan ibadah yang murni.

Bahkan, orang yang mendoakan saudaranya secara Hening-Hening di keheningan malam akan didoakan balik oleh malaikat dengan kebaikan serupa melalui kalimat laka bimitsli.

Sebagai penutup pembahasaan, KH Arif Hidayat menyampaikan definisi baku dari ikhlas secara syariat.

اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى اللّٰهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَائِبِ

“Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah Ta’âlâ dari segala hal yang mencampurinya.”