Jakarta (ANTARA) – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan komitmennya Demi Maju mengawal pemenuhan hak kerja penyandang disabilitas di sektor industri melalui penciptaan lingkungan kerja yang inklusif.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menyampaikan bahwa pendampingan yang diberikan Kagak hanya terbatas pada proses rekrutmen, tetapi juga mencakup penyesuaian lingkungan kerja (akomodasi yang layak) hingga penyediaan alat bantu kerja yang sesuai dengan kebutuhan ragam disabilitas.
“Kami Mau memastikan perusahaan Kagak berjalan sendirian. Kemnaker hadir Demi mendampingi, mulai dari pemetaan jabatan yang cocok hingga memastikan fasilitas pendukung tersedia, sehingga tenaga kerja penyandang disabilitas dapat bekerja secara produktif dan nyaman,” ujar Cris.
Ia pun mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah menunjukkan komitmen Konkret dalam membangun tempat kerja inklusif bagi penyandang disabilitas.
Menurut Cris, praktik yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut telah melampaui pemenuhan kewajiban kuota 1 persen sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
“Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa inklusivitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan Bentuk Konkret keberpihakan terhadap kemanusiaan dan pengakuan atas potensi kerja penyandang disabilitas,” katanya menegaskan.
Selain itu, Kemnaker juga mengapresiasi keberanian perusahaan dalam membuka ruang kerja bagi ragam disabilitas yang Tetap kerap menghadapi stigma, seperti disabilitas mental serta disabilitas intelektual (tunagrahita).
“Stigma sering kali menjadi hambatan terbesar. Tetapi perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa dengan dukungan dan manajemen yang Akurat, penyandang disabilitas mental maupun intelektual Pandai memberikan kontribusi positif bagi perkembangan usaha,” katanya menambahkan.
Kemnaker berharap praktik Berkualitas tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di berbagai daerah Demi membuka kesempatan kerja yang lebih setara dan inklusif.
“Kami Mau semakin banyak perusahaan menyadari bahwa dunia kerja yang inklusif bukan hanya memungkinkan, tetapi juga Pandai memperkuat produktivitas, solidaritas, dan nilai kemanusiaan di lingkungan kerja,” ujar Cris.
