Kekhawatiran yang Melegakan

PERASAAN cemas, khawatir, kerap menimbulkan pikiran negatif. Ia dapat memicu stres hingga depresi, Dapat pula memengaruhi metabolisme tubuh. Masuk Pikiran Apabila di tengah pandemi ini kita disarankan Buat mengelola emosi agar Enggak cemas, agar Enggak stres. Muaranya, agar imun terjaga.

Perasaan cemas, khawatir yang berlebihan sebaiknya dihindari. Itu kata para Ahli. Akan tetapi, bukan berarti perasaan tersebut harus disingkirkan Asal Mula, rasa cemas, khawatir, juga bermaanfaat. Ia punya daya guna Buat membangun diri, Buat melindungi diri.

Sejumlah ilmuwan menyimpulkan kecemasan belum tentu berujung pada sesuatu yang Enggak baik. Bahkan sebaliknya, rasa cemas yang Berkualitas mendorong seseorang Buat Mempunyai semangat lebih terhadap kehidupan.

Sisi positif rasa cemas dipaparkan di situs Verywell Mind. Salah satunya, kekhawatiran yang timbul Dapat menjadi ‘peringatan Pagi’ bagi diri Buat menghadapi perubahan Krusial yang Enggak pernah disadari.

Karena itu, jangan pernah bermusuhan dengan rasa cemas. Jangan haramkan ia dalam diri Anda. Yang Istimewa, bagaimana mengelolanya secara Betul agar Bermanfaat.

Pada konteks itu pula kiranya hasil survei terkini yang dilakukan Indikator Politik Indonesia menjadi Info Berkualitas di tengah situasi yang Tetap Enggak baik akibat covid-19. Survei menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia khawatir tertular varian omikron.

Cek Artikel:  Anak Muda Penguat Demokrasi

Sigi dilakukan secara online pada 15 Januari hingga 17 Februari 2022.

Survei menyasar Sasaran populasi Kaum negara Indonesia berusia 17 tahun atau sudah menikah dan Mempunyai akses internet lewat smartphone. Sebanyak 626 responden mengisi kuesioner secara onlineMargin of error Sekeliling 4% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasilnya, 25,8% responden mengatakan sangat khawatir tertular omikron. Lewat, 41% cukup khawatir, 28,5% Normal saja, dan 2,2% Enggak khawatir. Artinya, Eksis Sekeliling 66,8% yang mengkhawatirkan terpapar varian anyar covid-19 itu.

Berdasarkan gender, survei memperlihatkan yang cukup atau sangat khawatir tertular ialah Perempuan, yakni mencapai 72%. Berdasarkan etnis, mayoritas yang takut tertular omikron ialah Minang sebesar 88,2%. Kemudian diikuti etnis Melayu 83,7%, Sunda 72%, dan Jawa 67%. Mayoritas masyarakat juga setuju Buat diberikan vaksin booster. Jumlahnya 50,7%. Adapun yang sangat setuju 10,8%.

Covid-19 sudah dua tahun menginvasi planet bumi, termasuk Indonesia tentu saja. Virusnya Maju bermutasi kendati Eksis Info Berkualitas bahwa ia diperkirakan semakin melemah. Omikron, misalnya, meski dari sisi penularan jauh lebih Segera ketimbang pendahulunya, delta, tingkat keparahan lebih ringan. Pun dengan tingkat fatalitasnya.

Tetapi, bukan berarti omikron tak perlu dikhawatirkan Tengah. Boleh-boleh saja sejumlah negara telah berdamai dengan covid-19. Sebut saja Inggris, Denmark, Swedia, Prancis, dan Italia. Swedia bahkan mendeklarasikan bahwa pandemi covid-19 sudah berakhir.

Cek Artikel:  Erosi Partisipasi

Mereka memangkas atau mencabut Restriksi, juga melonggarkan atau meniadakan protokol kesehatan. Padahal, kasus positif Tetap tinggi. Rumah sakit juga Tetap dibikin repot. Mereka begitu percaya diri karena cakupan vaksinasi sudah sangat tinggi.

Sementara itu, kita? Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Buat vaksinasi pertama memang kian mendekati Sasaran sasaran 208.265.720 orang. Menurut data per 23 Februari 2022, mereka yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama 190.228.123 atau 91,34%. Tetapi, dosis kedua Tetap terbilang rendah, yakni 142.270.154 penduduk atau 68,31% dari Sasaran. Apalagi vaksin ketiga alias booster yang baru 9.166.808 orang atau 4,40%.

Atas realitas tersebut, hasil survei terbaru bahwa mayoritas masyarakat khawatir tertular omikron tak perlu dikhawatirkan. Ia Bahkan bagus. Kendati enggak Tiba 70%, ia cukup melegakan.

Dengan kekhawatiran, orang akan termotivasi menghindari penyebab paparan. Yang belum vaksin segera divaksin, yang selama ini mengabaikan prokes, segera mematuhi. Lebih Berkualitas khawatir ketimbang sok berani, sok Pasti.

Bangsa ini punya pengalaman pahit akibat kekonyolan sejumlah pejabat dalam menyikapi covid-19. Di awal-awal serangan dulu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berseloroh virus korona tak Dapat masuk karena perizinan di Indonesia berbelit-belit. Menhub Budi Karya Sumadi berkelakar covid-19 tak ditemukan di Indonesia karena masyarakatnya punya kekebalan yang didapat dari kegemaran memakan nasi kucing.

Cek Artikel:  Dirgahayu Jakarta

Gubernur NTB Zulkieflimansyah pun menyebut susu kuda liar dipercaya sebagai penangkal virus korona. Anak buah Presiden Jokowi yang lain, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, tak mau ketinggalan. Dia memperkirakan korona tak kuat dengan cuaca Indonesia.

Mereka bercanda, tetapi tak Kocak. Candaan itu lebih mendekati sikap menganggap enteng kalau bukan kesombongan. Dus, ketika serangan terjadi, kita kelabakan. Negara kewalahan, korban berjatuhan.

Korona Tetap Eksis di Sekeliling kita, itu fakta. Ketika ia akan menyudahi petakanya belum Dapat dipastikan. Karenanya, sebelum pandemi Betul-Betul pergi, lebih Berkualitas kita merawat kekhawatiran. Dengan begitu, motivasi Buat mencegah dan melindungi diri tetap tinggi.

Tentu kekhawatiran tak boleh over, tak boleh paranoid. Takarannya harus pas. Seperti profesor psikologi Universitas California, Kate Sweeny, bilang; “Khawatir dengan tingkat yang Akurat dan Enggak berlebihan akan jauh lebih Berkualitas ketimbang Enggak mengkhawatirkan apa-apa sama sekali.”

Mungkin Anda Menyukai