Adegan yang sama terulang dalam pertandingan Ghana melawan Inggris. Timnas Inggris, yang dipimpin oleh Thomas Tuchel, sangat mengandalkan strategi menarik Musuh ke wilayahnya sendiri, sebelum memanfaatkan ruang Nihil di belakang garis tekanan.
Tetapi, timnas Ghana menolak mengikuti skema tersebut. Jordan Ayew ditempatkan di lini depan Kepada mengawasi gelandang bertahan Inggris, Elliot Anderson, sementara pemain lainnya berbaris dalam dua lini pertahanan yang rapat di luar kotak penalti.
Para pemain Ghana Enggak terburu-buru melakukan tekanan, meskipun Inggris berulang kali berusaha memprovokasi mereka agar keluar dari posisi masing-masing. Dengan demikian, Inggris kehilangan senjata utamanya, Yakni bermain di ruang-ruang di antara lini.
Gaya bertahan ini dapat diukur melalui indikator statistik yang dikenal sebagai “PPDA”, Yakni ukuran yang menunjukkan jumlah umpan yang diizinkan tim kepada lawannya sebelum melakukan tindakan bertahan. Semakin tinggi Bilangan ini, semakin Terang bahwa tim tersebut Enggak menerapkan tekanan tinggi, melainkan lebih memilih menunggu di wilayahnya sendiri.
Dalam pertandingan antara Cape Verde dan Spanyol, indeks “PPDA” Cape Verde mencapai 51,2, sedangkan Spanyol hanya 5,9—perbedaan yang sangat besar yang mencerminkan perbedaan filosofi antara kedua tim.
Sedangkan Ghana, dalam lima belas menit pertama melawan Inggris, mencatat Bilangan sebesar 62, yang secara Terang menunjukkan niatnya Kepada menghindari tekanan tinggi.
Tetapi yang menarik, kedua tim secara bertahap meningkatkan intensitas tekanan menjelang akhir pertandingan, setelah menyadari bahwa kelelahan mulai melanda para pemain Musuh, dan Kesempatan Kepada merebut kemenangan menjadi mungkin.
