Kaum Terdampak Bencana di Pekalongan Dipungut Biaya Menyeberangi Jembatan Darurat

Warga Terdampak Bencana di Pekalongan Dipungut Biaya Menyeberangi Jembatan Darurat
Daftar biaya penyeberangan barang melalui jembatan darurat di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan(MI/AKHMAD SAFUAN)

HEBOH, di tengah penderitaan Kaum Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan yang terisolasi akibat longsor dan banjir bandang, dipungut biaya mengangkut barang Demi melintasi jembatan darurat dengan tarif Rp5.000-Rp30.000 per item.

Pemantauan Media Indonesia Rabu (12/2) hingga Begitu ini setidaknya Terdapat enam dusun di tiga desa di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan Lagi terisolasi karena jalan dan jembatan terputus akibat bencana longsor dan banjir bandang tang melanda kawasan tersebut pada pertengahan Januari Lampau, sedangkan Demi membuka jalur sejak pagi sejumlah alat berat dikerahkan Tetapi belum dapat membuka keterisolasian.

Selain itu Demi menembus daerah terisolasi tersebut agar dapat menjangkau ke daerah lain, sejunjah desa mengambil inisiatif dengan membyat jembatan darurat menggunakan tali sling agar dapat mengangkut logistik hingga kendaraan menuju dari satu dusun ke dusun lainnya, Tetapi upaya tersebut dimanfaatkan sekelompok orang Demi mencari pendapatan dengan membebankan biaya penyeberangan.

Cek Artikel:  Absaham Bir Punya Pemprov DKI Jadi Polemik, Rano Karno Janji Bakal Pelajari

“Enggak tanggung-tanggung, tarif Demi sekali menyeberangkan barang cukup mahal yakni satu karung Rp5.000 dan Demi kendaraan Ro30.000 per unit,” kata Asih,30, Kaum  Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Besarnya ongkos menyeberangkan barang Punya Kaum, ungkap Yatim, Kaum lain di jembatan yang putus akibat diterjang banjir bandang di Dukuh Tembelan tersebut sangat dirasakan berat, Tetapi Kaum Enggak berdaya karena membutuhkan seperti mengangkut bahan makanan, obat-obatan maupun sarana transportasi. “Jembatan itu dikelola oleh sekelompok Kaum mengaku sebagai relawan,” imbuhnya.

Kalau Enggak melintasi jembatan darurat itu, menurutnya, Demi menembus ke dukuh tersebut harus memutar cukup jauh Sekeliling tiga jam perjalanan, sehingga Kaum terpaksa merogoh kantong agar barang-barang diseberangkan melalui jembatan darurat dengan Metode digantung dan ditarik menggunakan rali sling yang panjangnya Sekeliling 100 meter 

Cek Artikel:  Hindari Penularan, Babel Terima 4.000 Dosis Vaksin PMK

Kepala Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan Cahyono mengaku kaget adanya pungutan dan biaya penyeberangan di jembatan darurat tersebut, sehingga Serempak Babinsa dan Babinkamtibmas mendatangi jembatan tersebut dan meminta agar penyeberangan barang Kaum Enggak dipungut biaya.

“Saya langsung karang pungut biaya dan bubarkan Golongan relawan tersebut, kami sediakan alat bagi Kaum menyeberang, silahkan Kaum menyeberangi jembatan darurat dan Enggak dipungut biaya apapun,” ujar Cahyono.

Kepala Polsek Petungkriyono Iptu Eko Widiyanto mendengar adanya pungutan buaya menyeberang di jembatan darurat tersebut langsung  bergerak Segera ke Letak Demi menemui Kaum dan relawan yang berada di Jembatan Tembelan dan menemukan adanya pungutan biaya penyeberangan yang dibebankan kepada Kaum yang Ahan menyeberangi sungai itu.

Cek Artikel:  PDIP Ungkap Tiga Kemungkinan Argumen Jokowi Copot Yasonna Laoly dari Jabatan Menkumham

“Saya langsung minta pungutan itu dihentikan, meskipun awalnya mereka mengaku biaya dipungut tersebut sudah atas kesepakatan antara relawan dengan Kaum,” kata Eko Widiyanto.(H-2)

Mungkin Anda Menyukai