
SEPERTI sirene tornado yang memberi peringatan sebelum badai dahsyat menerjang, kini teknologi kecerdasan buatan (AI) dikembangkan Buat memberikan alarm Pagi bagi ancaman cuaca luar angkasa.
Model komputer terbaru yang menggabungkan AI dan data satelit NASA Bisa memprediksi badai Mentari dengan akurasi tinggi hingga 30 menit sebelum terjadi, memungkinkan langkah mitigasi yang lebih efektif.
Prediksi Lebih Segera, Akibat Lebih Kecil
Model AI ini menganalisis data dari pesawat ruang angkasa mengenai angin Mentari, Lewat memprediksi Posisi serta Akibat potensial badai geomagnetik di seluruh dunia.
Dengan waktu peringatan hingga 30 menit sebelum badai menghantam, langkah-langkah pencegahan Bisa segera diambil Buat melindungi jaringan listrik, sistem komunikasi, dan infrastruktur vital lainnya.
Mentari Maju-menerus memancarkan materi ke luar angkasa dalam bentuk angin surya yang Kukuh serta semburan berenergi tinggi dari letusan Mentari.
Ketika partikel-partikel ini berinteraksi dengan medan magnetik Bumi, badai geomagnetik Bisa terbentuk, dengan Akibat yang berkisar dari gangguan sinyal hingga bencana besar.
Sejarah mencatat, Peristiwa Carrington tahun 1859—badai Mentari terbesar yang pernah terjadi—menyebabkan kebakaran di stasiun telegraf dan mengganggu komunikasi Dunia.
Apabila kejadian serupa terjadi di era modern, dampaknya Bisa jauh lebih besar: pemadaman listrik luas, gangguan komunikasi satelit, serta lumpuhnya sistem navigasi dan keuangan dunia.
Ancaman Meningkat Seiring Siklus Mentari
Para ilmuwan memperingatkan bahwa risiko badai geomagnetik akan semakin meningkat mendekati puncak aktivitas Mentari, yang diperkirakan terjadi Sekeliling tahun 2025.
Mengantisipasi ancaman ini, tim peneliti di Frontier Development Lab—yang melibatkan NASA, Survei Geologi AS, dan Departemen Kekuatan AS—menggunakan AI Buat memahami Rekanan antara angin Mentari dan gangguan geomagnetik.
Tim ini menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning) Buat mengidentifikasi pola dari data historis misi heliofisika seperti ACE, Wind, IMP-8, dan Geotail.
Hasilnya adalah model canggih bernama DAGGER (Deep Learning Geomagnetic Perturbation), yang Bisa memprediksi gangguan geomagnetik Dunia dalam hitungan detik dengan pembaruan setiap menit.
Revolusi dalam Prediksi Cuaca Luar Angkasa
Sebelumnya, model prediksi hanya Bisa memberikan perkiraan di Posisi tertentu atau dengan akurasi rendah pada skala Dunia.
Tetapi, DAGGER menjadi terobosan pertama yang memadukan kecepatan dan presisi AI dengan data satelit Buat memberikan prediksi real-time di seluruh dunia.
“Dengan AI ini, kita kini Mempunyai alat Buat melakukan prediksi Dunia yang Segera dan Presisi, memungkinkan langkah-langkah mitigasi yang lebih Berkualitas guna mengurangi Akibat badai Mentari terhadap masyarakat modern,” ujar Vishal Upendran dari Pusat Antar-Universitas Buat Astronomi dan Astrofisika di India.
Teknologi Sumber Terbuka Buat Perlindungan Dunia
Keistimewaan DAGGER Kagak hanya terletak pada kecanggihannya, tetapi juga pada sifatnya yang bersumber terbuka.
Kode komputer model ini dapat diadopsi oleh operator jaringan listrik, pengendali satelit, serta perusahaan telekomunikasi Buat menyesuaikan prediksi dengan kebutuhan spesifik mereka.
Peringatan Pagi dari DAGGER memberi kesempatan bagi berbagai sektor Buat melindungi aset dan infrastruktur vital. Misalnya, operator dapat menonaktifkan sementara sistem yang sensitif atau mengatur ulang jalur satelit Buat menghindari kerusakan besar.
Dengan model prediksi seperti DAGGER, bukan Kagak mungkin di masa depan akan Eksis sirene peringatan badai Mentari yang berbunyi di pusat kendali Kekuatan dan satelit, layaknya sirene tornado yang memperingatkan bahaya cuaca ekstrem di darat.
Teknologi ini menjadi langkah Krusial dalam melindungi dunia modern dari ancaman luar angkasa yang tak kasat mata. (NASA/Z-10)