Harga Ayam “Sundul Langit”, Sentuh Rp40 Ribu per Kilo, Mendag: Bukan Imbas MBG

Liputanindo.id – Harga daging ayam ras menyentuh Nomor Rp40.259 per kilogram. Telur ayam ras Rp30.570 per kilogram, besar medium Rp13.640 per kilogram, Minyakita Rp16.020 per liter, serta cabai rawit Rp73.609 per kilogram. Data itu berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 13 Februari 2026.

Banyak publik mengeluh dengan harga tersebut dan mengungkit kalau dulunya ayam per ekor Bisa didapatkan sekisar Rp50 ribu. Kenaikan ini juga dianggap sebagai imbas proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah kalau harga ayam naik karena MBG. MBG dianggapnya Membangun produksi menjadi lebih terukur lantaran adanya kepastian permintaan, sehingga harganya cenderung Kukuh.

Menurutnya, fluktuasi harga ayam sebelumnya lebih banyak dipengaruhi oleh naik-turunnya permintaan pasar. Ketika permintaan Tak menentu, produksi ikut menyesuaikan sehingga harga mudah bergejolak.

“Kalau dulu harga naik-turun karena permintaannya naik-turun. Permintaan naik turun, harga menjadi naik-turun. Malah sekarang ketika permintaan itu grafiknya begini (naik), Eksis kepastian. Malah produksi itu ngikutin ya, linear gitu, ngikutin permintaan sehingga harga malah cenderung Kukuh,” kata Budi.

Ia meminta publik Menonton kondisi harga secara menyeluruh. Menurutnya, Tak Eksis lonjakan harga ayam yang terjadi secara tiba-tiba akibat Penyelenggaraan MBG. “Apakah Lalu tiba-tiba harga melonjak karena MBG? Kan nggak Eksis, Seluruh harga kan bagus juga,” ujarnya.

Mendag mengatakan telah berdiskusi dengan pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan produsen ayam. Dari hasil pertemuan tersebut, pelaku usaha menyampaikan bahwa kepastian permintaan dari program MBG Malah membantu mereka meningkatkan produksi secara konsisten.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, pemerintah memastikan pemantauan harga dan pasokan tetap dilakukan Kepada menjaga stabilitas, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.

“Ini Malah bagus, karena kami produksinya Lalu meningkat, dan Niscaya karena permintaan menjadi Niscaya. Kalau dulu, permintaan naik-turun kan tergantung pasar,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *