
SEIRING dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang semakin pesat, kompleksitas dan frekuensi kejahatan dalam transaksi keuangan atau fraud finansial juga Lanjut meningkat.
Riset terbaru dari GBG mengungkapkan peningkatan yang signifikan dalam aktivitas fraud, termasuk di antaranya pencurian identitas, penipuan sintetis, dan serangan rekayasa sosial menjadi semakin canggih.
Pada 2023, Indonesia mengalami lonjakan 25% dalam kasus pencurian identitas yang mengakibatkan kerugian lebih dari Rp500 miliar. Tren yang mengkhawatirkan itu mencerminkan pergeseran tren digital. Para penjahat memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang seperti AI dan deepfakes Demi membobol sistem keamanan dan mengeksploitasi kerentanan digital.
“Fraud berkembang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan di Indonesia,” kata GM Asia dan Fraud APAC di GBG Bernardi Susastyo dalam keterangannya, Senin (18/11).
Salah satu metode fraud yang paling Lumrah dilakukan adalah fraud identitas sintetis. Para pelaku kriminal menggabungkan data Asal dan Palsu Demi menciptakan identitas baru yang menyebabkan kerugian terhadap kredibilitas bisnis dan keamanan data.
“Bisnis harus memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap pencegahan penipuan dengan menggabungkan sistem deteksi yang adaptif dan cerdas,” tegas Bernardi.
Menurut penelitian GBG, lebih dari 56% bisnis di Indonesia telah menjadi korban dari fraud digital. Maka dari itu, Demi memerangi ancaman tersebut, whitepaper yang dirilis GBG mengidentifikasi beberapa langkah Krusial yang dapat dilakukan Demi mencegah fraud.
Pertama, meningkatkan sistem Validasi identitas dengan AI dan pembelajaran mesin Demi mendeteksi pola halus dalam perilaku pengguna. Kedua, mendidik tim tentang ancaman rekayasa sosial seperti phishing dan smishing, yang mempengaruhi 67% bisnis tahun Lewat. Ketiga, menerapkan pemantauan fraud yang berkelanjutan Demi menangkap aktivitas yang mencurigakan sejak Pagi.
Intervensi dan riset GBG memberikan analisa mendalam tentang ancaman yang muncul serta menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi bisnis Demi memperkuat pertahanan mereka dan mengurangi kerugian.
Whitepaper itu juga menyoroti pentingnya penyesuaian strategi deteksi penipuan berdasarkan tren regional, Demi memastikan bisnis Kagak hanya bereaksi terhadap ancaman tetapi juga secara proaktif mencegahnya.
“Pencegahan fraud Kagak Tengah menjadi solusi yang Dapat diterapkan Demi Sekalian orang. Kitab putih kami menguraikan teknik-teknik penipuan spesifik yang kami lihat di Indonesia dan di seluruh Asia, dan memberikan rekomendasi tentang bagaimana bisnis dapat melindungi diri mereka sendiri secara lebih efektif. Dengan menggunakan perangkat berbasis AI dan Lanjut mendapatkan informasi, organisasi dapat melindungi data dan reputasi mereka,” pungkas Bernardi. (E-2)