Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat Demi meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman berbagai penyakit akibat musim kemarau ekstrem pada Kamis (25/6/2026). Lonjakan risiko kesehatan seperti diare, Kehilangan cairan tubuh, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga malnutrisi dipicu oleh kondisi cuaca yang diprediksi akan berlangsung lebih kering dan panjang tahun ini.
Penurunan ketersediaan air Kudus secara drastis Ketika kekeringan berdampak langsung pada kebersihan lingkungan masyarakat, seperti dilansir dari Detikcom. Situasi tersebut memicu perkembangbiakan bakteri serta virus yang menjadi penyebab Esensial penularan penyakit diare.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi menjelaskan bahwa masyarakat harus segera mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan darurat akibat sengatan panas ekstrem di luar ruangan.
“Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat celcius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis,” ujar Vini Adiani Dewi, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat.
Selain ancaman diare dan Kehilangan cairan tubuh, penurunan kualitas udara yang memburuk selama musim kemarau berpotensi meningkatkan kasus ISPA secara signifikan. Kelangkaan produksi pangan akibat kekeringan juga berisiko memicu masalah malnutrisi, sehingga Kaum disarankan menjaga asupan cairan, beristirahat cukup, menggunakan pelindung luar ruangan, serta dilarang memicu polusi udara.
“Jangan membakar sampah dan lahan,” tegas Vini Adiani Dewi, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat.
