Deretan Kontroversi Pejabat Soal Bencana Sumatera, Eksis Panggul Beras hingga Surprise

Liputanindo.id – Sejumlah tokoh sekaligus pejabat publik menuai kritik pedas dari warganet setelah aksinya Ketika mengunjungi korban bencana di Sumatera viral. Aksi itu terlihat mulai dari Zulkifli Hasan yang memanggul beras hingga outfit Verrel Bramasta. 

Berikut ini kontroversi para pejabat dalam menangani banjir di Sumatera.

1. Zulkifli Hasan 

Zulkifli Hasan (Instagram/zul.hasan)
Zulkifli Hasan (Instagram/zul.hasan)

Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Lazim Fraksi PAN, Zulkifli Hasan ramai diperbincangkan setelah aksinya memanggul sekarung beras Ketika meninjau banjir bandang di Padang, viral di media sosial.

Dalam video berdurasi 1 menit 58 detik yang diunggah di Instagram resminya @zul.hasan, Zulkifli tampak memanggul beras Sembari menyapa Kaum.

“Assalamualaikum ibu, ibu rumahnya dimana?” ucapnya menyapa Kaum.

Ia juga ikut membantu membersihkan rumah salah satu korban banjir menggunakan sekop, serta menyebut bahwa pemerintah telah meminta Perum Bulog menggandakan pasokan pangan.

Tetapi aksi tersebut menuai kritik. Banyak warganet menilai tindakan itu adalah pencitraan, bahkan mengaitkannya dengan rekam jejak Zulkifli sebagai mantan Menteri Kehutanan. Mereka menyebut kebijakan sektor kehutanan pada masa Lampau turut berkontribusi pada kerusakan hulu yang memperparah risiko banjir dan longsor.

2. Verrell Bramasta 

Verrel Bramasta (Instagram/bramastavrl)
Verrel Bramasta (Instagram/bramastavrl)

Member Komisi X DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) sekaligus publik figur Verrell Bramasta, ramai menajdi perbincangan ketika ia mengunjungi Letak banjir bandang di Padang. Foto-foto kehadirannya yang beredar di media sosial menampilkan Verrell mengenakan rompi taktis yang dianggap netizen menyerupai rompi antipeluru.

Dalam informasi yang diterima ERA, Verrel mengatakan ia Tak menggunakan rompi antipeluru seperti yang ramai jadi sorotan. Rompi yang ia kenakan Ketika meninjau korban bencana banjir di Sumatera itu hanya tactical vest pemberian temannya di TNI AL.

“Rompi taktis ini Tak dilengkapi pelat balistik, dan fungsinya memang Demi membawa perlengkapan kebutuhan. Saya pada Ketika itu membawa perlengkapan seperti air minum, Doku kas Demi dibagi-bagi,” jelasnya.

Menurutnya, rompi tersebut sangat memudahkan Demi membantu Kaum dilapangan. Ia juga menegaskan bahwa informasi yang ramai beredar Tak Benar

“Jadi distorsi informasi yang terjadi, dibilang anti peluru atau pelampung, salah besar,” tuturnya.

3. Kepala BNPB

Kepala BNPB Suharyanto (Dok. BNPB)
Kepala BNPB Suharyanto (Dok. BNPB)

Kontroversi lain datang dari pernyataan Kepala BNPB Suharyanto yang dalam sempat menyebut bahwa bencana “Tak perlu dibesar-esarkan” dan mengekspresikan sikap seolah “terkejut” bahwa bencana Dapat datang tiba-tiba.

“Saya terkejut, saya Tak mengira sebesar ini. Saya Tak mengira sebesar ini. Saya Harap Ampun Pak Bupati. Bukan berarti kami tak Acuh,” kata Suharyanto Ketua BNPB dalam konferensi pers.

Pernyataan itu memicu reaksi keras karena dianggap mengabaikan fakta bahwa potensi bencana sudah diprediksi dari jauh hari oleh BMKG. Publik juga menilai komentar tersebut Tak empatik bagi Kaum yang sedang berjuang di tengah banjir, longsor, dan kerusakan rumah.

4. Zita Anjani 

Zita Anjani (Instagram/zitaanjani)
Zita Anjani (Instagram/zitaanjani)

Utusan Spesifik Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani turut mendapat sorotan setelah ia mengungkapkan bahwa dirinya terkejut Menyantap banyak kayu terbawa arus banjir di salah satu Kawasan terdampak.

Komentarnya ramai diparodikan warganet karena dianggap memperlihatkan ketidaktahuan mengenai Elemen kerusakan hutan, yakni gelondongan potongan pohon yang besar terbawa banjir ketika hulu mengalami deforestasi.

Banyak pengguna media sosial menilai bahwa pejabat Semestinya memahami kontek terkait bencana yang terjadi, bukan menunjukkan keheranan yang Malah menimbulkan pertanyaan soal kapasitas.

Pernyataan para pejabat ini memunculkan pertanyaan publik mengenai sensitivitas, dan pemahaman mereka terhadap bencana alam di Indonesia. Di tengah tingginya korban dan kerusakan, aksi simbolik dan komentar yang Tak sesuai dianggap Tak membantu pemulihan, bahkan memperburuk Opini masyarakat terhadap pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *