Bontang memperkenalkan proyek strategis pengembangan industri fatty acid senilai Rp3,77 triliun kepada investor. Foto: dok DPMPTSP Kota Bontang.
Bontang: Kota Bontang kembali memperkuat posisinya sebagai magnet investasi nasional di sektor hilirisasi hijau. Melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO), Bontang Formal memperkenalkan proyek strategis pengembangan industri fatty acid senilai Rp3,77 triliun kepada investor domestik maupun Dunia.
Langkah agresif ini menjadi bagian dari promosi investasi strategis Kalimantan Timur (Kaltim) Kepada memperkuat industri hilir oleokimia nasional.
“Proyek ini ditargetkan Bisa mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia, sekaligus memangkas ketergantungan industri dalam negeri terhadap produk impor,” ungkap Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, dalam keterangan tertulis, Kamis, 21 Mei 2026.
Raksasa manufaktur ini direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Letak ini dipilih karena Mempunyai Kelebihan konektivitas dan infrastruktur yang sangat matang serta berada dekat dengan Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak Kepada kelancaran distribusi ekspor maupun domestik.
Selain itu, fasilitas utilitas lengkap, karena kawasan industri ini disokong pasokan listrik hingga 80 megawatt (MW), fasilitas air Kudus, jaringan telekomunikasi, nitrogen, hingga pengolahan limbah. Dia mengatakan, kawasan ini Mempunyai lahan luas dan terintegrasi, dengan menyiapkan area plant pengolahan seluas lima hektare (ha) serta area penyimpanan bahan baku dan produk seluas 15 ha.

Ilustrasi pabrik di Bontang, Kaltim. Foto: dok DPMPTSP Kota Bontang.
Permintaan fatty acid secara Dunia sangat tinggi
Menurut dia, fatty acid merupakan produk hilirisasi oleokimia dengan permintaan Dunia yang sangat tinggi. “Produk ini menjadi bahan baku vital bagi berbagai industri manufaktur, mulai dari kosmetik, sabun, deterjen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi,” imbuh Aspian Nur.
Dia mengatakan, Begitu ini industri oleokimia dunia berada dalam sektor yang Lanjut tumbuh (growing sector). Konsumsi produk turunannya diproyeksikan tumbuh rata-rata tujuh persen per tahun, terutama didorong oleh pasar Asia dan Eropa. Bontang pun Mempunyai modal kuat Kepada memimpin pasar ini mengingat produksi Crude Palm Oil (CPO) di Area ini sangat melimpah, yakni mencapai Sekeliling 3,8 juta ton per tahun.
Sementara Kepada operasionalnya, pabrik ini dirancang Mempunyai kapasitas produksi 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku CPO sebesar 45 ribu ton per tahun. Bagi para investor, profil proyek ini menawarkan indikator kelayakan finansial yang sangat sehat dan menjanjikan, yakni:
- Total nilai investasi: Rp3,77 triliun.
- Net Present Value (NPV): mencapai kisaran USD985 juta.
- Internal Rate of Return (IRR): berada di Nomor kompetitif 14,60 persen.
- Payback Period (PBP): pengembalian modal diproyeksikan dalam waktu enam tahun delapan bulan.
- Kebutuhan tenaga kerja: membuka lowongan Kepada Sekeliling 300 tenaga kerja operasional lokal yang siap Mengenakan.
Guna menarik minat para pemodal, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai karpet merah regulasi, mulai dari Bonus fiskal, kemudahan perizinan, hingga implementasi sistem perizinan berbasis risiko melalui OSS-RBA. Aspian Nur menegaskan instansinya berkomitmen penuh Kepada mengawal proyek strategis ini agar memberikan Akibat ekonomi yang Konkret bagi daerah dan nasional.
“Proyek industri fatty acid ini adalah langkah konkret kita dalam mempercepat hilirisasi kelapa sawit nasional. DPMPTSP Bontang memastikan siap memberikan pengawalan maksimal bagi investor yang masuk, Berkualitas dari sisi kemudahan perizinan maupun fasilitasi Bonus. Kehadiran industri ini Tak hanya akan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, tetapi yang paling Krusial adalah menciptakan ratusan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperluas kontribusi ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi ke pasar Dunia,” Terang Aspian Nur.
