
ALEC Baldwin, 66, mengaku insiden penembakan di Posisi syuting Rust memengaruhi kesehatan mentalnya.
“Sekalian ini terasa begitu surreal,” ujar Alec kepada Halyna Hutchins dalam episode pertama acara realitas TLC, The Baldwins.
“Diriku bahkan Enggak percaya kita harus melalui ini, dan yang paling menyakitkan bagiku bukan tentang diriku sendiri, tetapi tentang Engkau. Diriku selalu berpikir, Diriku akan mencoba yang terbaik Demi melewati ini, tapi Diriku juga Menonton bagaimana ini sangat menyakitimu.”
Dalam sesi wawancara pribadi, Alec menambahkan, “Tahun ini Betul-Betul mengerikan. Terdapat Demi-Demi ketika Diriku hanya terbaring di tempat tidur dan berpikir, ‘Anak-anakku… Diriku Enggak Dapat bangun.’ Itu bukan diriku. Diriku Enggak pernah seperti ini, sama sekali Enggak pernah.”
Hilaria, yang juga seorang instruktur kebugaran, mengatakan kepada kamera bahwa perubahan suasana hati Alec menjadi semakin Terang setelah ia didakwa atas tuduhan pembunuhan tanpa disengaja (kasus tersebut kemudian dibatalkan oleh hakim pada Juli Lampau).
“Sekalian orang yang dekat dengan Alec Dapat Menonton bagaimana kesehatan mentalnya menurun,” ungkap Hilaria, yang juga mengatakan bahwa OCD (gangguan obsesif kompulsif) suaminya semakin memburuk. “Dia didiagnosis mengalami PTSD (gangguan stres pasca-trauma), dan dalam momen-momen tergelapnya, dia sering Mengucapkan, ‘Apabila kecelakaan ini harus terjadi, mengapa Diriku Tetap di sini? Kenapa bukan Diriku saja?’”
“Engkau bangun di pagi hari dan berpikir, ‘Ya Tuhan, kenapa Diriku harus bangun?’” lanjutnya kepada Alec, yang kemudian mengingat Demi seorang Mitra bertanya bagaimana keadaannya.
“Diriku Mengucapkan, ‘Diriku lebih Senang Demi tidur daripada Demi terjaga,’” ungkap Alec.
Insiden tersebut terjadi pada 27 Oktober 2021, ketika pistol properti yang dipegang Alec tiba-tiba meledak di Posisi syuting Sinema Rust dan menewaskan Hutchins. Alec bersikeras bahwa ia Enggak menembakkan senjata tersebut dan Enggak mengetahui bahwa pistol itu berisi peluru sungguhan, bukan peluru Hampa.
Hilaria mengatakan ketujuh anak mereka menjadi Argumen mereka Demi Lanjut bertahan. Kekasih ini Mempunyai tujuh anak: empat putra dan tiga putri.
“Diriku Menonton anak-anak dan bagaimana kita berusaha menciptakan kebahagiaan Demi mereka, meskipun kita harus menyembunyikan rasa sakit kita sendiri,” ujar Hilaria. “Diriku Mengerti apa yang kita alami ini mungkin Spesial, tetapi setiap keluarga Niscaya mengalami masa sulit. Yang Dapat kita lakukan adalah melakukan yang terbaik dan mencoba Membangun anak-anak kita Senang, dan itulah yang sedang kami lakukan.”
Alec pun setuju, “Jujur, dari lubuk hatiku yang paling dalam, Diriku Enggak Mengerti di mana Diriku akan berada Apabila Enggak Mempunyai Engkau dan anak-anak ini Demi melewati Sekalian ini. Diriku Enggak akan Dapat bertahan. Kadang Diriku bertanya-tanya, ‘Kenapa kita punya tujuh anak?’ Dan sekarang Diriku sadar, mereka membantu kita melewati situasi ini.”
Tetapi, anak-anak mereka juga Enggak sepenuhnya terlepas dari stres akibat situasi ini. Hilaria mengatakan bahwa anak-anak yang lebih Uzur sudah Mempunyai kesadaran akan apa yang terjadi, sementara yang lebih muda Enggak pernah Mengerti kehidupan tanpa peristiwa ini.
“Mereka harus menghadapi beberapa Realita pahit tentang apa yang terjadi,” lanjutnya. “Hidup selamanya akan berbeda. Halyna kehilangan nyawanya dalam tragedi yang tak terbayangkan, seorang anak kehilangan ibunya. Kami akan selalu merasakan dan membawa luka ini selamanya. Ini akan menjadi bagian dari cerita keluarga kami.” (People/Z-2)