Ilustrasi. Foto: Dok MI
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (yoy) pada April 2026 sebesar 2,42 persen. Bilangan tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan April 2025 sebesar 1,95 persen.
Berdasarkan Golongan pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh Golongan makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi 0,90 persen dengan tingkat inflasi 3,06 persen.
Kemudian diikuti oleh Golongan perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi 0,77 persen dengan tingkat inflasi mencapai 11,43 persen. Inflasi Golongan ini utamanya didorong oleh komoditas emas perhiasan.
“Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi terjadi pada komponen bergejolak, Yakni 3,37 persen dengan andil inflasi 0,56 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras,” papar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono pada konferensi pers di Jakarta, Senin, 4 Mei 2026.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Inflasi komponen inti 2,44%
Selanjutnya, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,44 persen dengan andil inflasi 1,56 persen. Hal itu didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan biaya kuliah akademi/perguruan tinggi.
Sedangkan komponen diatur pemerintah mengalami inflasi yang lebih rendah sebesar 1,53 persen dengan andil inflasi 0,30 persen, terutama akibat kenaikan harga tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).
Menurut Distrik, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,00 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung sebesar 0,53 persen.
