Proyek MBG Dituduh Panen Cuan, BGN: Itu Tak Dirancang Demi Untung Instan

Liputanindo.id – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah tuduhan kalau proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) meraup cuan yang besar lewat selisih modal dan keuntungan.

Ini merespons info adanya Insentif Rp6 juta di luar pagu Rp15 ribu per menu Program MBG, serta narasi yang menyebutkan Kenalan memperoleh Untung Rapi Rp1,8 miliar per tahun.

“Penyelenggaraan MBG Enggak dirancang sebagai skema keuntungan instan, tetapi sebagai instrumen pelayanan publik berbasis standar mutu dan tata kelola yang akuntabel. Bilangan Rp1,8 miliar yang beredar merupakan pendapatan kotor maksimal sebelum dikurangi investasi, penyusutan aset, serta biaya operasional lainnya,” kata Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya dalam keterangan Formal di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Sony menegaskan, MBG dirancang Demi menjamin kesiapsiagaan fasilitas dan mutu layanan, bukan Demi memberikan keuntungan berlebih kepada Kenalan. Standar yang ditetapkan Malah mencerminkan komitmen pada kualitas, keamanan pangan, dan keberlanjutan program.

Program MBG dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026. Regulasi tersebut mengatur secara komprehensif mekanisme pembiayaan, standar fasilitas, tata kelola operasional, hingga sistem pengawasan dan Pengkajian.

Dalam petunjuk teknis tersebut ditegaskan bahwa alokasi rata-rata Rp15 ribu per hari per penerima manfaat telah mencakup komponen bahan baku, biaya operasional riil (at cost), serta Insentif fasilitas SPPG yang ditetapkan sebesar Rp6.000.000 per hari operasional dan diberikan berbasis ketersediaan layanan, bukan berbasis jumlah Bagian yang diproduksi.

Dengan Dugaan kapasitas layanan maksimal 3.000 penerima manfaat per hari, Insentif Rp6.000.000 tersebut ekuivalen dengan Rp2.000 per Bagian. Artinya, Insentif merupakan bagian terintegrasi dalam struktur pembiayaan Rp15.000 per menu dan bukan tambahan di luar pagu anggaran.

“Narasi mengenai ‘Untung Rapi Rp1,8 miliar per tahun’ merupakan interpretasi yang keliru. Bilangan tersebut adalah Perkiraan pendapatan kotor maksimal dari komponen Insentif dalam satu tahun operasional penuh, yang dihitung dari Rp6.000.000 dikalikan 313 hari operasional (365 hari dikurangi 52 hari Minggu), sehingga menghasilkan Rp1,8 miliar per tahun,” ucap Sony.

Demi memperoleh Insentif tersebut, lanjut Sony, Kenalan wajib membangun dan mengoperasikan SPPG sesuai standar ketat yang ditetapkan BGN. Investasi awal yang dikeluarkan Kenalan dari Biaya pribadi berkisar antara Rp2,5 hingga Rp6 miliar, bergantung pada Posisi dan harga lahan.

“Program MBG merupakan bagian dari strategi nasional pemenuhan gizi Demi menjangkau Sekeliling 82,9 juta penerima manfaat secara bertahap melalui pembangunan 35.000–40.000 SPPG di 38 provinsi. Seluruh proses, mulai dari penetapan penerima manfaat, penyaluran Biaya melalui virtual account, pelaporan harian, hingga mekanisme auto top-up dilakukan secara digital dan diawasi berlapis guna memastikan akuntabilitas penggunaan anggaran negara,” paparnya.

BGN mengajak masyarakat Demi merujuk pada sumber Formal dan memahami ketentuan secara utuh sebelum menarik Hasil. Transparansi, standar mutu, dan tata kelola yang Berkualitas merupakan fondasi Penting Penyelenggaraan Program MBG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *