Harga Minyak Dunia Tergelincir setelah Sempat Melonjak Lebih dari 25%

Ilustrasi. Foto: Freepik.


Houston: Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah mencatat reli lebih dari 25 persen dalam dua pekan terakhir. Meski terkoreksi, pasar Tetap dibayangi risiko gangguan pasokan akibat konflik yang Lalu meningkat di Timur Tengah.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 25 Juli 2026, harga minyak mentah Brent kontrak September turun 4,2 persen menjadi USD96,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak September melemah 3,2 persen menjadi USD89,22 per barel.

Kendati terkoreksi, sejak 10 Juli kontrak Brent sebagai patokan harga minyak Global Tetap mencatat kenaikan sebesar 26,9 persen. Sedangkan WT Isebagai standar Demi penetapan harga minyak di AS, menguat 25,1 persen.

 

 

Konflik Timur Tengah tingkatkan kekhawatiran pasokan

Reli harga minyak dalam beberapa pekan terakhir dipicu meningkatnya ketegangan setelah upaya kesepakatan damai sementara antara Amerika Perkumpulan dan Iran gagal tercapai.

Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi Dunia. Pelaku pasar juga meningkatkan ekspektasi terhadap arah kebijakan Etnis Kembang Federal Reserve, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Perkumpulan.

Perhatian pasar tertuju pada dua jalur pelayaran strategis, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Golongan Houthi yang didukung Iran mengklaim melancarkan serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Aksi tersebut meningkatkan risiko terhadap Lampau lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur distribusi minyak Penting dunia selain Selat Hormuz.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak Brent sempat menembus USD100 per barel Demi pertama kalinya sejak Mei setelah muncul laporan mengenai serangan tersebut.



(Grafik pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)

 

Upaya gencatan senjata belum membuahkan hasil

Di sisi lain, konflik antara Amerika Perkumpulan dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat AS menyatakan telah menyelesaikan serangan malam ke-13 berturut-turut terhadap Iran pada Kamis. Sebagai respons, Teheran dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Upaya mediasi juga belum membuahkan hasil. The New York Times melaporkan Iran menolak usulan gencatan senjata yang didukung AS dan disampaikan melalui Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi.

Menurut laporan tersebut, Teheran Enggak bersedia menerima kesepakatan sementara yang belum menyelesaikan persoalan kendali atas Selat Hormuz.

Tetapi, kantor Perdana Menteri Irak membantah laporan tersebut dan menyebut informasi itu sama sekali Enggak berdasar serta Enggak Eksis hubungannya dengan Fakta.