Bakesbangpol Kalsel ajak generasi muda bijak medsos Hindari radikalisme

Bakesbangpol Kalsel ajak generasi muda bijak medsos cegah radikalisme

Cita-cita kami, para peserta dapat menjadi agen literasi digital di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga Pandai mengedukasi Kawan-temannya Buat bijak bermedia sosial dan Bukan mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun paham radikal

Banjarmasin (ANTARA) – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kalimantan Selatan mengajak pelajar menjadi generasi digital cerdas, kritis, dan bertanggung jawab menggunakan media sosial maupun gim daring, guna mencegah penyebaran hoaks serta paham radikalisme terhadap generasi muda.

Kasubbid Penanganan Konflik Bidang Kewaspadaan Nasional Bakesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan, Israjudin, mengatakan, media sosial dan gim daring kini Bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang interaksi digital yang berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu Buat menyebarkan informasi Bajakan maupun paham ekstrem kepada generasi muda.

“Generasi muda harus Mempunyai kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum Jernih sumbernya, karena hoaks sering dibuat Buat memancing emosi dan mendorong orang menyebarkannya tanpa berpikir panjang,” katanya Begitu sosialisasi Menangkal Hoaks dan Radikalisme di Media Sosial, di Banjarbaru, Senin.

Israjudin menjelaskan, mereka diberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk hoaks, mulai dari pesan berantai, akun Bajakan, rekayasa foto, video, hingga konten berbasis kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, para pelajar diajak memahami pentingnya melakukan Validasi informasi dengan memeriksa kredibilitas sumber, membandingkan dengan informasi Formal, serta Bukan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Pemahaman terhadap Ciri-Ciri radikalisme juga Krusial agar pelajar Pandai mengenali sejak Awal berbagai bentuk penyebaran paham ekstrem di ruang digital, termasuk upaya membangun kebencian, memecah belah masyarakat, hingga membenarkan tindakan kekerasan.

Israjudin menambahkan, apabila menemukan aktivitas mencurigakan di media sosial maupun gim daring, pelajar diimbau menghentikan interaksi, menyimpan bukti, melaporkan kepada orang Sepuh atau guru, serta memanfaatkan fitur blokir dan pelaporan pada platform digital.

“Cita-cita kami, para peserta dapat menjadi agen literasi digital di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga Pandai mengedukasi Kawan-temannya Buat bijak bermedia sosial dan Bukan mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun paham radikal,” kata Israjudin.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut meningkatnya penyebaran propaganda radikalisme melalui ruang digital yang menyasar kalangan remaja.

Kegiatan diikuti 48 peserta yang berasal dari 16 sekolah, dengan masing-masing sekolah mengirimkan dua siswa dan satu guru Bimbingan Konseling (BK).

Sosialisasi juga menghadirkan narasumber dari Densus 88 Antiteror Polri serta Ketua Lembaga Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan.