Seorang ibu hamil bernama Enina Tuliahanuk (28), Anggota Kampung Pontenikma, Distrik Panggema, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, meninggal dunia pada Selasa, 7 Juli 2026 Lampau, setelah dilaporkan Tak memperoleh penanganan medis lanjutan akibat Tak Terdapat layanan transportasi udara.
Peristiwa ini terjadi di tengah penghentian sebagian besar layanan penerbangan perintis di Yahukimo pascainsiden penembakan dan pembakaran pesawat Punya PT Associated Mission Aviation (AMA) yang menewaskan pilot asal Amerika Perkumpulan, Capt. Nicholas Francis Gosselin, pada 2 Juli 2026.
Kematian Enina memunculkan kembali sorotan terhadap sistem pelayanan kesehatan di Distrik pegunungan Papua yang sangat bergantung pada transportasi udara.
Ketika akses penerbangan terhenti, masyarakat di berbagai distrik praktis kehilangan jalur Penting Buat memperoleh layanan kesehatan rujukan.
Bagaimana kronologinya?
Menurut keterangan keluarga, Enina yang tengah mengandung sembilan bulan memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
Ones Weby, keluarga sekaligus pengawal duka, mengatakan bahwa pelayanan kesehatan di Distrik Panggema sangat bergantung pada kemampuan puskesmas setempat
“Kalau Dapat bersalin di Puskesmas Panggema, biasanya Dapat dibantu mantri atau perawat. Tapi kalau kondisinya Tak memungkinkan, berarti harus dirujuk ke kota,” katanya.
Dalam kondisi normal, pasien di distrik tersebut biasanya dapat dievakuasi menggunakan pesawat perintis atau helikopter.
Keluarga dan tenaga kesehatan setempat kemudian berusaha mencari Donasi evakuasi melalui sejumlah operator penerbangan, termasuk layanan helikopter Heli Vida Wamena.
Tetapi, upaya tersebut Tak membuahkan hasil. Sejumlah operator penerbangan dilaporkan belum bersedia melayani penerbangan ke Distrik tersebut setelah insiden Kematian di Bandara Balinggama, Distrik Sobaham.
“Ibu Enina tinggal di Distrik Panggema, Kampung Pontenikma. Kami sudah melakukan komunikasi dengan maskapai penerbangan Buat dijemput, Berkualitas pesawat maupun Heli Vida, tetapi pihak penerbangan Tak bersedia melayani mengingat Unsur keamanan atas kejadian di Sobaham,” ujarnya kepada wartawan di Papua, Piter Lokon, yang melaporkan Buat BBC News Indonesia.
Menurut Ones, Enina Tak sempat dibawa ke fasilitas kesehatan yang Mempunyai kemampuan menangani persalinan dengan risiko tinggi akibat ketiadaan transportasi udara.
Enina pun meninggal dunia.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Distrik Papua, dr. Nickanor Kaladius Reumi Wonatorey, mengatakan pihaknya telah menerima informasi mengenai peristiwa tersebut.
Tetapi, menurutnya, IDI belum memperoleh laporan lengkap sehingga belum dapat menyimpulkan penyebab Niscaya Kematian ibu dan bayi di Distrik Panggema.
Hingga Berita ini diterbitkan, belum Terdapat penjelasan substantif dari pemerintah daerah mengenai kronologi kejadian maupun langkah-langkah yang akan dilakukan Buat mencegah kasus serupa terulang.
BBC News Indonesia telah berupaya menghubungi sejumlah pejabat Provinsi Papua Pegunungan, Tetapi mereka belum memberikan respons.
Medan berat, perjalanan darat Dapat berhari-hari
Yahukimo merupakan salah satu Distrik dengan kondisi geografis paling menantang di Papua Pegunungan. Sebagian besar distrik hanya dapat dijangkau melalui jalur udara karena belum terhubung jaringan jalan yang memadai.
Menurut keluarga Enina, perjalanan darat atau berjalan kaki dari Distrik Panggema menuju Distrik lain membutuhkan waktu yang sangat Pelan.
Perjalanan dari Panggema ke Wamena, misalnya, dapat memakan waktu Sekeliling dua malam tiga hari. Waktu serupa juga diperlukan Buat mencapai Kabupaten Yalimo.
Adapun perjalanan darat menuju Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, dapat memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan hingga Sekeliling satu bulan, tergantung kondisi medan dan cuaca.
Dalam kondisi darurat medis, jarak dan waktu tempuh tersebut Membikin evakuasi darat Nyaris mustahil dilakukan.
“Kalau mau keluar Buat mendalami pengobatan, sangat sulit karena situasi penerbangan. Jalan kaki dari Panggema ke Wamena dua malam tiga hari. Ke Yahukimo lebih Tak Dapat Kembali, Dapat makan waktu berminggu-minggu,” ujar Ones.
Asa keluarga: Transportasi udara dipulihkan
Keluarga besar mendiang Enina berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memulihkan layanan penerbangan secepat mungkin.
Mereka juga meminta agar tersedia sistem komunikasi darurat yang menjangkau kampung-kampung terpencil agar masyarakat dapat lebih Segera meminta Donasi ketika terjadi keadaan darurat.
Menurut keluarga, banyak permukiman berada jauh dari lapangan terbang sehingga helikopter sering menjadi satu-satunya sarana yang memungkinkan Buat mengevakuasi pasien dalam kondisi kritis.
“Kalau boleh Dapat bantu SSB [perangkat radio Single Side Band], supaya komunikasi ke luar lebih Segera. Sebelum pasien semakin parah, Dapat Terdapat komunikasi Buat meminta helikopter atau pesawat. Karena satu-satunya Langkah menyelamatkan pasien ke luar itu pesawat,” kata Ones.
Pada 2 Juli 2026, pesawat PT Associated Mission Aviation (AMA) PK-RCY yang dipiloti Capt. Nicholas Francis Gosselin dilaporkan ditembak dan dibakar oleh Grup Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo di Bandara Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo.
Insiden tersebut menyebabkan layanan penerbangan menuju banyak Distrik pedalaman Yahukimo dihentikan sementara karena pertimbangan keamanan.
Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat setempat.
Dari 51 distrik yang Terdapat di Kabupaten Yahukimo dengan total 512 kampung, sebagian besar Lagi bergantung pada transportasi udara Buat mobilitas orang, distribusi logistik, pelayanan pendidikan, hingga akses kesehatan.
IDI Papua soroti sistem rujukan dan akses transportasi
Merespons kasus Kematian Enina Tuliahanuk, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Distrik Papua, dr. Nickanor Kaladius Reumi Wonatorey, mengatakan sistem rujukan, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan transportasi harus berjalan Berbarengan.
“Kita perlu penguatan layanan kesehatan Penting, peningkatan jumlah dan distribusi tenaga kesehatan, ketersediaan obat dan peralatan kesehatan, serta membentuk sistem rujukan yang lebih efektif,” katanya kepada jurnalis Ikbal Asra di Papua, yang melaporkan Buat BBC News Indonesia.
Dia mengatakan IDI Papua siap bekerja sama dengan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan organisasi profesi lain Buat mencari solusi.
“Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, maupun organisasi kesehatan lainnya dalam upaya merumuskan solusi yang berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar Nickanor.
