Deschamps pun berhenti mengandalkan para gelandang dan lebih memprioritaskan para penyerang; hal ini merupakan perkembangan yang wajar, karena para Bakat muda di lini depan tampil sangat menonjol, sementara para pemain yang hengkang dari lini tengah Enggak Mempunyai pengganti dengan kualitas setara.
Dengan demikian, nama-nama yang dulunya menjadi pilar proyek Deschamps secara bertahap menghilang karena berbagai Argumen, seperti Blaise Matuidi, Paul Pogba, dan N’Golo Kanté.
Bahkan para pemain yang dianggap sebagai penerus alami mereka, seperti Eduardo Camavinga, Enggak sepenuhnya mendapat kepercayaan penuh dari Deschamps.
Sebaliknya, muncul generasi penyerang baru yang berhasil dipadukan oleh sang Instruktur dalam satu sistem, seperti Désiré Doué, Bradley Barcola, Mikel Olise, Ousmane Dembélé, dan Kylian Mbappé.
Peralihan ke Susunan 4-2-3-1 ini adalah strategi yang akan digunakan Deschamps Demi akhirnya mengalahkan Spanyol, Tetapi pada Ketika yang sama hal ini menempatkan Zidane di hadapan dilema Konkret: apakah ia akan Maju mengandalkan formula sukses yang dikembangkan Deschamps, atau memulai proyeknya sendiri dari Nihil dengan segala risikonya. Standar yang ditinggalkan Deschamps kini telah menjadi sangat tinggi.
