Pamekasan (Liputanindo.id) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Bahkan cuaca panas juga berpotensi lebih terasa akibat fenomena El Nino.
Berdasarkan prediksi BMKG, Kawasan Pamekasan dan sekitarnya mulai memasuki musim kemarau dengan curah hujan yang Maju menurun dalam beberapa pekan terakhir, khususnya ketika memasuki pertengahan Mei 2026.
“Demi ini kami sudah melakukan sejumlah persiapan sekaligus pemetaan Kawasan rawan kekeringan Demi mengantisipasi Dampak kekeringan akibat kemarau musim ini. Terlebih kondisi kemarau 2026 diprediksi berbeda dibanding tahun sebelumnya,” kata Plt Kalaksa BPBD Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, Rabu (20/5/2026).
Pada 2025, kemarau berlangsung relatif singkat dan Lagi disertai curah hujan sedang. Tetapi tahun ini terdapat potensi El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang serta suhu udara lebih panas. “Tahun ini Terdapat potensi El Nino, sehingga prediksi kemarau akan lebih panjang dan lebih panas dibanding tahun sebelumnya,” ungkapnya..
“Demi ini kami sudah melakukan pemetaan internal berdasar historis kekeringan dan kondisi geografis di sejumlah kecamatan. Dari data awal, diperkirakan Sekeliling 272 dusun di 78 desa berbeda berpotensi terdampak kekeringan, Dekat sama dengan tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Langkah lainnya juga sudah disiapkan, seperti pendistribusian air Bersih hingga penyediaan tempat penampungan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara kolektif. Termasuk meminta dukungan dari Pemerintah Provisi (Pemprov) Jawa Timur, seiring dengan potensi kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dari tahun sebelumnya.
“Tahun kemarin itu kemarau basah, sementara tahun ini Terdapat prediksi El Nino yang cukup besar. Tetapi kami tetap akan melakukan Pengecekan ke lapangan agar Sokongan yang diberikan Akurat sasaran,” jelasnya.
Seyogyanya upaya penanganan kekeringan di Kawasan setempat, sudah dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) melalui program pengeboran sumber air di sejumlah titik di Pamekasan. Tetapi kondisi alam dan curah hujan yang berbeda Membikin Dampak kekeringan tiap tahun Bukan Dapat disamakan.
“Oleh karena itu kami mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem dengan memperbanyak konsumsi air putih dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB yang menjadi puncak suhu panas. Selain itu kami juga meminta agar menggunakan air secara bijak, agar kebutuhan selama musim kemarau tetap tercukupi,” pungkasnya. [pin/kun]
