Dunia sepak bola semakin berputar di Sekeliling Fulus. Terutama para investor dari dunia ekuitas swasta yang memainkan peran yang semakin besar di dalamnya. Akuisisi klub-klub seperti AC Milan, Chelsea, dan Olympique Lyon menunjukkan bahwa mereka Menyantap sepak bola sebagai pasar yang menjanjikan.
Dalam rubrik Cleats & Cashflows, kita akan membahas perkembangan ini. Kesempatan apa saja yang ditawarkan tren ini bagi klub-klub? Dan risiko apa saja yang menyertainya?
Ini adalah bagian ketiga dari seri Inter. Pada bab sebelumnya, kami menjelaskan bagaimana Inter membiayai kembalinya mereka ke puncak sepak bola Italia dengan menerbitkan obligasi, merestrukturisasi utang, dan menyusun struktur utang yang semakin rumit. Dalam bab ini, kami akan Menonton apa yang terjadi ketika struktur keuangan tersebut mulai runtuh.
Titik balik
Kegagalan Suning di Inter Kagak terjadi begitu saja. Ini merupakan titik akhir dari perkembangan yang berlangsung selama empat tahun. Perkembangan tersebut dimulai ketika Tiongkok semakin menarik diri dari investasi luar negeri di bidang sepak bola, dan kemudian dipercepat oleh Akibat finansial pandemi COVID-19.
Pada tahun 2020, retakan pertama mulai terlihat. Hal ini meletakkan dasar bagi apa yang pada akhirnya berujung pada pengambilalihan oleh Oaktree. Suning termasuk di antara konglomerat Tiongkok yang sangat terpukul oleh kombinasi masalah ekonomi domestik, krisis di pasar properti, pandemi, dan upaya pengurangan utang secara luas di kalangan dunia usaha Tiongkok. Perusahaan-perusahaan yang selama bertahun-tahun melakukan Perluasan Global dengan Biaya pinjaman, tiba-tiba Menonton ruang gerak finansial mereka menyusut drastis.
Bagi Suning, hal ini diperparah dengan fakta bahwa bisnis ritelnya sendiri sudah berada di Dasar tekanan. Grup tersebut menderita kerugian Sekeliling 3,9 miliar yuan Tiongkok, setara dengan Sekeliling €490 juta. Akibatnya, semakin sulit bagi Suning Kepada Maju mendukung Inter secara finansial. Karena pemegang saham Dekat Kagak Dapat Kembali menyuntikkan Biaya, Inter terpaksa mencari pembiayaan eksternal.
Pinjaman dari Oaktree
Pinjaman tersebut terwujud pada Mei 2021. Oaktree, sebuah perusahaan pengelola aset Global besar yang berspesialisasi dalam investasi pada perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, memberikan pinjaman sebesar €275 juta kepada Suning. Etnis Merekah pinjaman tersebut sebesar 12 persen dengan jangka waktu tiga tahun. Pinjaman tersebut diberikan kepada Grand Tower S.à r.l., perusahaan induk di Luksemburg yang melalui perusahaan tersebut Suning menjadi pemilik Inter.
Struktur tersebut sangat Krusial. Pasalnya, pinjaman tersebut Kagak diambil oleh Inter sendiri, melainkan oleh perusahaan induk di atas klub tersebut. Akibatnya, utang dan beban Merekah Kagak langsung tercatat dalam neraca Inter. Selain itu, yang dijadikan jaminan bukanlah para pemain, pendapatan stadion, atau aktivitas operasional klub lainnya, melainkan saham perusahaan induk tersebut. Kalau Suning Kagak melunasi pinjaman tersebut, Oaktree akan menjadi pemilik perusahaan induk dan dengan demikian secara Mekanis mengendalikan Inter.
Eksis dua aspek dari pinjaman tersebut yang menonjol. Pertama, Etnis bunganya. Dengan tingkat 12 persen, Etnis Merekah tersebut jauh lebih tinggi daripada Etnis Merekah pada obligasi Inter yang diterbitkan sebelumnya. Hal ini mencerminkan risiko yang lebih tinggi bagi Oaktree. Pasalnya, pelunasan pinjaman tersebut Kagak bergantung pada kinerja klub, melainkan pada apakah Suning berhasil melakukan refinancing, menjual klub, atau menggalang modal baru.
Selain itu, jangka waktu yang singkat, Adalah tiga tahun, juga mencolok. Tanpa rencana refinancing yang Terang, pada akhirnya hanya tersisa satu dari dua skenario: Berkualitas Suning menjual Inter dengan nilai yang cukup Kepada melunasi pinjaman tersebut, atau Oaktree akan mengambil alih kendali atas klub. Dekat Kagak Eksis jalan tengah.
Pada tahun 2022, tekanan semakin meningkat. Inter Media & Communication melakukan refinancing obligasinya dengan pinjaman obligasi baru sebesar €415 juta dengan Etnis Merekah 6,75 persen, sementara posisi keuangan Suning di Tiongkok semakin memburuk. Penjualan Inter tampaknya semakin menjadi satu-satunya jalan keluar yang realistis.
Proses penjualan yang gagal
Pada September 2022, berbagai media melaporkan bahwa keluarga Zhang telah melibatkan bank investasi Goldman Sachs Kepada mencari pembeli. Harga yang diminta berkisar €1,2 miliar, jumlah yang kira-kira sama dengan yang dibayarkan RedBird Kepada AC Milan. Kemudian, Financial Times melaporkan bahwa Raine Group juga terlibat dalam proses penjualan tersebut.
Tujuannya Terang: menjual Inter dengan harga yang memungkinkan pelunasan pinjaman kepada Oaktree, Suning dapat mengembalikan sebagian besar investasinya, dan idealnya juga Tetap Dapat meraup keuntungan.
Secara teori, Inter tetap menjadi klub yang menarik. Klub ini Tetap menjadi salah satu klub terbesar di Italia, Mempunyai jangkauan Mendunia, mengalami peningkatan pendapatan, memenangkan dua gelar Aliansi dalam empat musim, dan mencapai final Aliansi Champions pada tahun 2023.
Tetapi, situasi keuangannya jauh kurang menarik. Program obligasi tersebut memberikan tekanan berat pada arus kas di masa depan. Selain itu, utang kepada Oaktree meningkat pesat akibat Etnis Merekah yang tinggi dan skema payment-in-kind (PIK), di mana Merekah ditambahkan ke sisa pinjaman.
Di luar klub pun, Kagak banyak hal positif yang terjadi. Pendapatan dari hak siar televisi Italia nyaris Kagak tumbuh, dan Inter Kagak Mempunyai stadion sendiri. Klub ini berbagi Stadion San Siro dengan AC Milan, sementara stadion tersebut tetap menjadi Punya Pemerintah Kota Milan. Bagi calon pembeli, hal ini berarti Kesempatan yang lebih sedikit Kepada menciptakan nilai tambah melalui properti atau pengelolaan stadion.
Akibatnya, para investor Kagak Menonton klub papan atas yang sehat secara finansial, melainkan sebuah organisasi dengan utang tinggi, Kesempatan pertumbuhan terbatas, Kagak Mempunyai kendali atas stadion, dan struktur biaya yang Tetap dirancang Kepada investasi besar-besaran dalam kesuksesan olahraga selama bertahun-tahun. Memang Eksis minat, tetapi pada akhirnya Kagak Eksis pembeli yang muncul.
Kreditur mengambil alih
Setelah proses penjualan yang gagal, Suning mencoba Kepada melakukan refinancing pinjaman tersebut. Menurut berbagai media, hal ini telah dibahas dengan manajer investasi Amerika Perkumpulan, PIMCO. Tetapi, pinjaman baru tersebut diperkirakan akan kembali dikenakan Etnis Merekah yang sangat tinggi. Bahkan Kalau refinansialisasi itu berhasil, hal itu kemungkinan besar hanya akan menjadi penundaan eksekusi. Pada akhirnya, penjualan atau pengalihan paksa klub tetap menjadi hasil yang paling mungkin terjadi.
Pinjaman dari Oaktree menunjukkan betapa cepatnya utang mahal dapat membengkak. Ketika pinjaman tersebut Terperosok tempo pada Mei 2024, jumlah awal sebesar €275 juta telah membengkak menjadi Sekeliling €395 juta akibat struktur PIK. Suning Kagak Pandai melunasi jumlah tersebut.
Penilaian atas kepemilikan saham di Inter juga menunjukkan betapa parahnya posisi Suning telah memburuk. Grup tersebut mencatat penurunan nilai kepemilikan sahamnya sebesar 68,55 persen dari €586 juta menjadi €148 juta: penurunan nilai Sekeliling 75 persen. Dengan demikian, Suning pada dasarnya telah mengakui bahwa nilai bagi pemegang saham telah Dekat sepenuhnya hilang. Inter Tetap Mempunyai reputasi yang kuat, Martabat di dunia olahraga, dan daya tarik Mendunia, Tetapi utang yang tinggi telah mengikis nilai bagi pemegang saham Dekat sepenuhnya.
Pada 22 Mei 2024, Suning Kagak Pandai melunasi pinjaman tersebut. Oaktree kemudian memanfaatkan jaminan yang telah disepakati dan mengambil alih kendali atas Inter. Ini bukanlah akuisisi tradisional di mana seorang pembeli mengambil alih klub di pasar. Kepemilikan berpindah karena seorang kreditor menagih jaminannya.
Itulah mungkin pelajaran terpenting dari era Suning. Utang-utang tersebut Kagak hanya membiayai ambisi olahraga Inter, tetapi pada akhirnya juga menentukan siapa yang menjadi pemilik klub.
Konklusi
Suning Kagak kehilangan Inter dalam semalam. Kendali atas klub bergeser selangkah demi selangkah melalui struktur keuangan: pertama ke pemegang obligasi dan akhirnya ke Oaktree. Ketika Oaktree menagih jaminannya pada Mei 2024, hasilnya sebenarnya sudah tak terelakkan.
Pada bagian berikutnya dari seri ini, yang akan terbit pada awal Agustus, kita akan membahas periode di Dasar kepemimpinan Oaktree. Bagaimana seorang investor yang berspesialisasi dalam utang bermasalah mengelola salah satu klub sepak bola terbesar di Eropa? Dan bagaimana Inter berusaha beralih dari pertumbuhan berbasis utang ke model keuangan yang lebih berkelanjutan?
Berlanggananlah sekarang (gratis) ke Cleats & Cashflows di LinkedIn!
