Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern, Swiss, meluncurkan Smart Embassy Service Ecosystem guna mengoptimalkan pelayanan bagi Kaum negara Indonesia (WNI) di Swiss dan Liechtenstein yang jumlahnya Lanjut meningkat.
Dilansir dari Money, transformasi digital ini dilakukan menyusul pertumbuhan populasi WNI yang berdasarkan data Formal State Secretariat for Migration (SEM) telah mencapai 2.685 orang per 31 Maret 2026.
Jumlah tersebut memperlihatkan pertumbuhan sebesar 19,3 persen sejak tahun 2021 yang kala itu tercatat sebanyak 2.250 orang, dengan rata-rata kenaikan mencapai 3,8 persen per tahun.
Berdasarkan wilayahnya, konsentrasi WNI terbesar berada di Zurich dengan 809 orang, diikuti Vaud atau Lausanne 412 orang, Jenewa 371 orang, Bern 246 orang, Basel-Stadt 167 orang, serta kanton-kanton lainnya sebanyak 680 orang.
Mayoritas masyarakat Indonesia di Swiss memegang izin tinggal B Yakni sebanyak 1.665 orang, disusul izin tinggal permanen C sebanyak 690 orang, izin jangka pendek L sebanyak 212 orang, izin lintas batas F sebanyak 80 orang, dan kategori izin lainnya sebanyak 38 orang.
Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss Purnowidodo menjelaskan bahwa meskipun data lapor diri internal mencatat Bilangan yang lebih tinggi, pihak kedutaan tetap menjadikan data SEM sebagai acuan Penting karena mencatat izin tinggal aktif.
“WNI kita itu sebanyak 2.685, ini data terbaru. Tapi memang menurut catatan lapor diri itu lebih banyak, 2.782. Tapi yang jadi pegangan adalah yang dari SEM,” ujar Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss pada Jumat (26/6/2026).
Purnowidodo menambahkan bahwa perbedaan ini terjadi karena beberapa Kaum kerap lupa melaporkan kepulangan mereka ke tanah air.
“Karena kalau lapor diri itu kadang-kadang lapor diri pas masuk, tapi pulangnya enggak lapor diri,” lanjut Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Purnowidodo juga memaparkan bahwa sebagian besar permasalahan kekonsuleran yang dihadapi di Swiss berkaitan dengan kelalaian pribadi, terutama kehilangan paspor.
“Bukan berarti Swiss itu negara yang Kagak Terjamin, tetapi kecerobohan kita juga kadang-kadang mengundang permasalahan buat kita,” kata Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Guna mempermudah penanganan masalah tersebut, KBRI Bern mengintegrasikan layanan informasi lewat AI chatbot WhatsApp bernama BINA (Bern Intelligent Assistant).
“Kita buat BINA, Bern Intelligent Assistant. Itu AI chatbot layanan 24 jam seminggu Buat melengkapi hotline yang memang sudah Eksis,” ujar Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Melalui Penemuan ini, Kaum yang kehilangan Arsip Krusial dapat dengan mudah mengakses Mekanisme persiapan Arsip hingga pembuatan janji temu.
“Cukup beberapa klik di nomor WhatsApp, mereka dapat Sekalian informasi yang mereka butuhkan,” lanjut Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Selain BINA, kedutaan menghadirkan kios layar sentuh PINTAR, sistem jemput bola SIGAP, serta sistem pembayaran nontunai Akurat.
“Kita yang datangin, selain Buat menjemput bola dan juga bagaimana KBRI Pandai hadir di tengah-tengah mereka mengayomi masyarakat,” ujar Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Pihak kedutaan menegaskan bahwa esensi dari seluruh pembaruan sistem ini berorientasi pada fungsi kegunaan langsung bagi masyarakat setempat.
“Jangan dilihat bahwa Penemuan itu harus yang high tech. Tapi kita Membikin Penemuan itu hal-hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat kita di sini,” kata Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss.
Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss Dahlia Kusuma Dewi menegaskan bahwa ekosistem ini bertujuan memperluas keterjangkauan akses pelayanan publik.
“Tujuannya juga adalah Buat memberikan kemudahan akses sebenarnya kepada masyarakat, Bagus itu kemudahan Kagak hanya akses tetapi juga pelayanan,” ujar Dahlia Kusuma Dewi, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss.
Peningkatan layanan informasi juga dilakukan melalui media sosial dan peluncuran podcast INSIS yang menggunakan mahasiswa program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai Pemandu acara.
“Harapannya adalah dengan menjadi host ini langsung Rekan-Rekan pelajar BIPA mendapatkan informasi dari kami mengenai hal-hal yang Ingin mereka ketahui,” kata Dahlia Kusuma Dewi, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss.
Langkah pembenahan pelayanan internal turut diakomodasi melalui sistem administrasi digital SIAP demi memacu profesionalitas staf kedutaan.
“Harapannya adalah kita Pandai juga membangun integritas dari staf-staf KBRI itu sendiri, profesionalitasnya, integritasnya,” ujar Dahlia Kusuma Dewi, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss.
Terkait promosi wisata, pihak kedutaan menyebut Kaum Swiss sangat memerlukan transparansi biaya dan kejelasan akses transportasi ke Letak tujuan.
“Orang Swiss ini tipikalnya adalah mereka Ingin Mengerti kalau saya mau ke Labuan Bajo berapa sih budget yang harus saya siapkan,” ujar Dahlia Kusuma Dewi, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss.
