Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Hak Asasi Sosok (Wamen HAM) Mugiyanto memastikan bahwa negara hadir dalam upaya penanganan pengungsi yang Eksis di Intan Jaya, Papua Tengah.
Dia menyebut, Kementerian HAM segera melakukan pertemuan dengan kementerian/lembaga Kepada Berbarengan-sama melakukan upaya penanganan pengungsian.
“Eksis banyak pengungsi di sana dan Kementerian Hak Asasi Sosok dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan melibatkan kementerian lembaga terkait Kepada melakukan upaya-upaya menangani pengungsi yang Eksis di Papua yang jumlahnya lumayan besar,” kata Mugiyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Dia menyebutkan bahwa berdasarkan data sementara jumlah pengungsi yang dilaporkan sebanyak 122 ribu jiwa.
“Jadi kami Mau memastikan negara hadir Kepada memastikan persoalan pengungsi Dapat ditangani dengan Bagus, dengan sinergi lintas kementerian dan lembaga,” ujarnya.
Menurut dia, penanganan pengungsi ini harus komprehensif melibatkan kementerian dan lembaga terkait, memastikan hak asasi Sosok di Daerah tersebut terpenuhi dari aspek keamanan, ekonomi, kesejahteraan, pendidikan dan sebagainya.
“Jadi Eksis banyak yang menjadi atensi kami. Mereka yang mengungsi punya hak atas shelter. Memastikan tempat mereka mengungsi Terjamin, kebutuhan dasar Dapat terpenuhi,” ujar Mugiyanto.
Sementara itu, Astama Ops Polri Komjen Pol. Fadil Imran mengatakan Polri telah melakukan upaya-upaya pemulihan di Daerah Intan Jaya pasca-insiden kontak senjata, terutama pemulihan keamanan.
Dia mengatakan bahwa TNI Berbarengan Polri melakukan pembersihan agar aktivitas penerbangan di distrik tersebut Dapat berjalan normal kembali.
“TNI-Polri mengirim personel ke sana Kepada memulihkan keadaan,” kata Fadil.
Diketahui, Komisi Nasional Hak Asasi Sosok (Komnas HAM) menghimpun informasi awal terkait kontak senjata antara aparat keamanan dari Koops TNI Habema dan Grup bersenjata TPNPB-OPM yang terjadi di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7) malam.
Dalam peristiwa tersebut, seorang Perempuan bernama Melkiana Duwitau yang sedang mengandung meninggal dunia Berbarengan bayi dalam kandungannya setelah terkena peluru Demi berada di dalam rumahnya.
Komnas HAM menyebut insiden itu terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang meluas di Tanah Papua dalam beberapa hari terakhir.
Rangkaian peristiwa tersebut juga mengakibatkan seorang pendeta, seorang Personil Grup bersenjata, seorang prajurit TNI, dan seorang pilot pesawat perintis berkewarganegaraan asing meninggal dunia. TNI menyatakan peluru yang mengenai Melkiana berasal dari Grup bersenjata.
Selain itu, Komnas HAM memperoleh informasi mengenai pembakaran pesawat Punya Associated Mission Aviation (AMA) di Bandara Perintis Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada hari yang sama. Peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh Grup TPNPB-OPM Kodap Yahukimo yang dipimpin Elkius Kobak.
Dalam kejadian itu, pilot pesawat berkewarganegaraan Amerika Perkumpulan, Nicholas F. Goselin, tewas ditembak, sedangkan tujuh penumpang yang merupakan Orang Asli Papua dilaporkan selamat.
Berdasarkan catatan Komnas HAM, penyerangan terhadap pesawat komersial juga terjadi di Bandara Koroway Batu, Yahukimo, pada 11 Februari 2026 yang mengakibatkan dua pilot tewas ditembak. Lembaga tersebut menduga kedua serangan terhadap pesawat di Yahukimo dilakukan oleh Grup yang sama.
Komisi Nasional Hak Asasi Sosok yang mencatat 97 peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata di Papua sepanjang 2025 serta 26 kasus hingga April 2026.
