Papua: Operasional penerbangan perintis di Wamena dihentikan sementara buntut penembakan pilot AS

Serangan pilot di Papua

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 4 menit

Peristiwa penembakan terhadap pilot asal Amerika Perkumpulan, Nicholas F. Goselin, yang membawa pesawat dari maskapai PT Associated Mission Aviation (AMA), berujung penghentian sementara operasional penerbangan perintis di Dekai, Provinsi Papua Pegunungan.

Informasi tersebut berasal dari surat yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Pembuat suratnya yakni Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Wamena, Fitrajaya Siwu.

BBC News Indonesia memperoleh salinan dokumennya.

Dalam surat bertanggal 2 Juli 2026 ini dijelaskan bahwa penghentian sementara operasional penerbangan ditempuh Karena “kejadian pembakaran pesawat PT AMA” oleh “pihak yang Tak bertanggungjawab.”

Penghentian sementara dilakukan “Tiba situasi keamanan dinyatakan kondusif” serta “operasional penerbangan dapat dilaksanakan kembali secara Kondusif.”

Cakupan penghentian sementara menyasar daerah Dekai di Provinsi Papua Pegunungan.

Selama masa penghentian sementara, pihak otoritas penerbangan bakal berkoordinasi dalam memantau situasi yang berkembang.

Kantor UPBU Kelas I Wamena belum dapat memastikan Bilaman operasional penerbangan perintisi Pandai dijalankan Tengah.

Di kesempatan terpisah, Direktur PT AMA, Bob Kayadu, menyebut maskapainya “off selama satu minggu dari kegiatan operasional.”

Tembakan ke pilot AS

Pilot pesawat PT AMA menjadi korban serangan di Bandara Ipdeheik pada Kamis (02/07) Lampau.

Berdasarkan informasi awal yang diterima dari UPBU Kelas I Wamena, pesawat perintis jenis pilatus Punya PT AMA berangkat dari Bandar Udara Wamena pada pukul 06.30 WIT dengan membawa satu orang pilot dan tujuh penumpang.

Pesawat dilaporkan mendarat di Lapangan Terbang Balinggama pada pukul 06.46 WIT.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyebut Tak diperoleh adanya informasi terkait kondisi keamanan di area Sekeliling lapangan terbang tersebut yang menunjukkan adanya situasi keamanan yang Tak kondusif.

Sebelum penerbangan dilaksanakan, klaim Kemenhub, informasi cuaca pada rute penerbangan dilaporkan dalam kondisi Bagus.

Tetapi demikian, berdasarkan laporan awal, Tak terdapat penyampaian informasi mengenai situasi keamanan dari Lapangan Terbang Balinggama sebelum pesawat mendarat.

Setelah pilot melaporkan bahwa pesawat telah mendarat, komunikasi dari pos area di lapangan terbang tersebut dilaporkan terputus.

Kuat dugaan, begitu mendarat dan menurunkan muatan, sekelompok orang yang diklaim sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyerang dan membakar pesawat.

Pihak otoritas bandara di Wamena baru menerima laporan darurat dari Manajer PT AMA beberapa jam kemudian, tepatnya pada pukul 09.39 WIT.

Kepala Bandara Nop Goliat Dekai, yakni bandar udara yang melayani Distrik Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, menuturkan laporan mengenai terjadinya serangan maupun pembakaran itu berasal dari pilot Susi Air yang melayani rute Dekai-Hilari-Dekai pada pukul 09.49 WIT.

Nicholas Goselin

Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan terhadap pilot Kaum Amerika Perkumpulan beserta pembakaran pesawat tersebut.

Sebby menyatakan TPNPB telah menembak Wafat Nicholas F. Goselin lantaran diduga mengangkut Laskar dan logistik militer Indonesia ke provinsi yang tengah bergejolak itu.

Kehadiran pesawat itu, klaimnya, melanggar Pelarangan mereka terhadap penerbangan sipil di Area-Area yang dianggap Grup tersebut sebagai Area operasi.

Sementara itu, Komandan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, juga mengklaim bahwa penembakan terhadap pilot Nicholas dilakukan atas perintahnya.

Dia Berbicara mereka telah mengeluarkan ultimatum yang melarang seluruh pesawat sipil memasuki Area operasional TPNPB Kodap XVI Yahukimo.

“Kami juga menyampaikan kepada pemerintah AS, melalui kedutaan besarnya di Indonesia, dan kepada negara-negara Personil PBB bahwa penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan konsekuensi dari kesalahan pemerintah Indonesia, AS, Belanda, dan PBB,” ucap Elkius.

“Yang gagal mengatasi akar masalah konflik di Papua antara militer Indonesia dan TPNPB yang telah berlangsung selama 64 tahun.”

Akibat konflik berkepanjangan itu, sambungnya, setidaknya puluhan ribu Kaum sipil tewas dan ratusan ribu Kaum adat Papua terpaksa mengungsi ke berbagai Area tanpa Donasi kemanusiaan melalui Komite Palang Merah Indonesia (ICRC).

Karenanya, Elkius maupun Sebby mendesak PBB Demi memfasilitasi perundingan yang melibatkan pemerintah Indonesia, TPNPB, dan perwakilan rakyat Papua.

Serta, memperingatkan bahwa kelompoknya bakal Lanjut menargetkan pesawat sipil lain yang diyakini membantu operasi militer di Area tersebut.

Menanggapi tuduhan TPNPB, Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, membantah tudingan yang menyebut pesawat Punya PT AMA digunakan Demi mengangkut personel militer, amunisi, maupun terlibat dalam operasi keamanan di Papua.

Dia mengklaim, sejak maskapai itu beroperasi 67 tahun Lampau, penerbangan misi gereja semata-mata ditujukan Demi pelayanan kemanusiaan dan menjangkau masyarakat di Area terpencil.

“Gereja Katolik Eksis Demi pelayanan Mahluk, murni seratus persen. Tak Eksis kepentingan-kepentingan politik di balik itu, sama sekali Tak Eksis. Gereja Eksis, alat transportasi amal ini diadakan hanya Demi murni pelayanan Mahluk,” kata Yanuarius dalam konferensi pers di Jayapura, Jumat (03/07).

“Kalau memang kami kedapatan mengangkut Personil TNI, Polri, KKB, TPNPB, atau membawa amunisi, silakan. Tapi, selama ini Tak Eksis.”

Informasi ini akan diperbarui secara berkala.