Sektor perunggasan regional kini dalam kewaspadaan tinggi setelah varian virus influenza burung H5 yang sangat patogen ditemukan pada burung liar di Esperance, Western Australia, menurut laporan yang dilansir dari Bloombergtechnoz. Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menilai kekhawatiran ini sangat beralasan karena industri unggas Mempunyai peran vital dalam ketahanan pangan serta perekonomian di Australia. Sektor peternakan Australia tercatat memproduksi Sekeliling 1,3 juta ton daging ayam dan 6 miliar butir telur setiap tahun dengan nilai ekonomi mencapai AUD 7 miliar yang melibatkan ribuan peternak lokal.
“Ayam adalah sumber protein Penting di Australia, dengan konsumsi mencapai 45 kilogram per orang per tahun,” ujar Prof Ronny dalam keterangannya, Rabu (24/6).
Berdasarkan catatan historis, Australia sebelumnya pernah menghadapi gelombang wabah flu burung varian H7 yang menyerang area peternakan komersial. Demi memutus rantai penyebaran virus kala itu, otoritas berwenang terpaksa memusnahkan jutaan ekor ayam yang memicu kerugian finansial besar dan mengganggu stabilitas pasokan telur domestik.
“Flu burung di Australia juga memengaruhi perdagangan Global. Status bebas penyakit sangat Krusial Demi menjaga kepercayaan Kenalan dagang. Ketika wabah terjadi, sejumlah negara dapat membatasi impor sehingga pemerintah dan industri harus memperkuat surveilans, karantina, serta latihan simulasi wabah,” Jernih Prof Ronny. Penyebaran virus H5 digolongkan sebagai ancaman ekstrem lantaran sifatnya yang sangat mematikan bagi populasi unggas.
Dalam kurun waktu beberapa hari saja, tingkat mortalitas akibat infeksi ini Bisa mencapai 90 hingga 100 persen, sehingga berpotensi melumpuhkan kapasitas produksi komoditas pangan hewani. Kendati teknologi vaksin Demi subtipe H5 sudah dikembangkan, implementasi di lapangan Lagi membentur kendala biaya operasional massal yang tinggi serta kompleksitas dalam membedakan unggas terinfeksi alami dengan yang divaksin. “Karena itu, strategi Penting tetap melalui biosekuriti yang ketat dan pemusnahan unggas yang terinfeksi,” kata Prof Ronny.
Selain hantaman terhadap roda ekonomi peternakan, transmisi virus flu burung H5N1 juga membawa risiko fatalitas bagi kesehatan Insan berupa potensi gejala klinis berat hingga sepsis.
Indonesia dipandang perlu melipatgandakan pengawasan karena posisi geografisnya beririsan langsung dengan rute migrasi satwa unggas liar dari belahan bumi Australia. “Kehati-hatian ini wajar karena Indonesia berada di jalur migrasi burung dari Australia dan pernah mengalami wabah H5N1 yang berdampak besar pada sektor unggas. Ini menjadi perhatian Krusial,” ujar Prof Ronny. Langkah antisipasi yang direkomendasikan mencakup peningkatan standardisasi higienitas kandang, pemeriksaan ketat pada koridor migrasi burung, edukasi mendalam bagi peternak Berdikari, hingga penyiapan skema Biaya darurat nasional.
“Indonesia harus memperkuat pengawasan terhadap burung liar di jalur migrasi serta meningkatkan biosekuriti di peternakan unggas, termasuk menjaga sanitasi, mengendalikan Lewat lintas unggas, dan menyiapkan Biaya darurat Demi kompensasi serta pemusnahan unggas apabila terjadi wabah,” tutup Prof Ronny.
