Ahli gizi sebut MBG Krusial Kepada Cegah penyakit Bukan menular

Ahli gizi sebut MBG penting untuk cegah penyakit tidak menular

Jakarta (ANTARA) – Ahli gizi Dr. Doddy Izwardy menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Bukan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga menjadi instrumen pencegahan penyakit Bukan menular (PTM) sejak usia sekolah.

Dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu, Doddy mengatakan Indonesia Tetap menghadapi beban ganda malnutrisi pada anak usia sekolah, yakni stunting dan kelebihan berat badan atau obesitas yang sama-sama berisiko memicu PTM di kemudian hari.

“Implikasi kebijakannya dalam hal ini adalah intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan PTM. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan,” katanya.

Doddy yang juga Ketua Standar DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) hadir sebagai Ahli dari pemerintah dalam sidang perkara Nomor 40/PUU-XXIV/2026, Nomor 52/PUU-XXIV/2026, dan Nomor 55/PUU-XXIV/2026 yang menguji ketentuan mengenai penempatan program MBG dalam anggaran pendidikan pada APBN Tahun Anggaran 2026.

Ia menjelaskan anak usia sekolah merupakan Golongan yang Tetap mengalami perkembangan fisik, psikologis, dan neurologis secara intensif sehingga membutuhkan asupan Daya dan zat gizi yang memadai.

Menurut dia, kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan struktur dan fungsi otak yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar, konsentrasi, memori, serta prestasi akademik anak.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pada Golongan usia 5–12 tahun tercatat prevalensi stunting sebesar 23,6 persen dan kelebihan berat badan maupun obesitas Sekeliling 20 persen.

“Ini potensi menjadi penyakit Bukan menular,” ujarnya.

Doddy juga menyoroti kesenjangan status gizi antara Daerah perkotaan dan pedesaan. Pada Golongan usia 5–12 tahun, prevalensi stunting di pedesaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perkotaan, sedangkan kasus kegemukan lebih banyak ditemukan di Daerah perkotaan.

Selain persoalan gizi, anak sekolah juga Tetap menghadapi rendahnya aktivitas fisik, perilaku hidup Bersih yang belum optimal, serta tingginya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak.

Ia mengatakan Penyelenggaraan program MBG selama 16 bulan menunjukkan adanya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah, sekaligus membantu mendorong pola makan yang lebih sehat.

Menurut Doddy, tantangan kesehatan anak sekolah Begitu ini bukan hanya kekurangan gizi, tetapi juga tingginya paparan pangan Bukan sehat yang berpotensi meningkatkan risiko PTM di masa depan.

Karena itu, ia menilai program gizi sekolah seperti MBG Bukan Semestinya dipandang semata sebagai Sokongan pangan, melainkan sebagai investasi pembangunan sumber daya Insan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada bidang pengentasan kelaparan, kesehatan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi.

“Program gizi sekolah sebaiknya Bukan diposisikan hanya sebagai Sokongan makan atau pangan, tetapi sebagai investasi human capital lintas sektor,” kata Doddy.