Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Foto: tangkapan layar YouTube Liputanindo.
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah kebijakan jangka pendek Kepada menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi Mendunia.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan kebijakan tersebut difokuskan pada stabilitas nilai Ubah dan penguatan likuiditas di pasar keuangan.
“Dalam hal ini kita bicara nilai Ubah dan likuiditas. Kepada nilai Ubah mungkin dari Kawan-Kawan media sudah aware, dalam satu bulan terakhir kami sudah Meningkatkan BI rate sebesar 100 basis poin, sehingga sekarang berada di posisi 5,75 persen,” ungkap Destry, dalam keterangan pers usai rapat pimpinan DPR Serempak pemerintah terkait kebijakan fiskal dan moneter, Senin, 29 Juni 2026.

Ilustrasi Gedung BI. Foto: dok BI.
Repricing SRBI dan SBN
Selain Meningkatkan Etnis Kembang acuan, BI juga melakukan repricing atau penyesuaian harga terhadap instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia maupun pemerintah, Yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Destry mengungkapkan, langkah tersebut turut mendorong masuknya Kategori modal asing (inflow) yang cukup signifikan sepanjang Juni 2026. Secara year to date hingga 26 Juni 2026, inflow ke portofolio SBN dan SRBI sudah mencapai Sekeliling USD9 miliar.
“Jadi itu pertama tentunya confidence dari offshore yang tentu juga akan tercermin dari confidence masyarakat Indonesia,” ujar dia.
BI perkuat likuiditas pasar
Selain menjaga stabilitas nilai Ubah, BI juga Maju memperkuat likuiditas di pasar melalui berbagai instrumen moneter. Destry menjelaskan, Pengembangan likuditas melalui operasi moneter meningkat dari Sekeliling Rp600 triliun pada akhir Mei 2026 menjadi Sekeliling Rp1.000 triliun pada akhir Juni 2026.
“Tertentu Kepada menjaga likuditas agar Tak terjadi gejolak harga di pasar Duit dan pasar valas kita,” kata Destry.
