Mentan Amran Tantang Kampus Ciptakan Penemuan, Indonesia Menuju Negara Superpower Pangan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Dok. Istimewa)


Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan perguruan tinggi, ilmuwan, dan lembaga riset menjadi kunci Esensial Buat mewujudkan Indonesia sebagai superpower melalui kekuatan pangan. Karena itu, Kementerian Pertanian membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar hasil riset kampus Enggak berhenti di laboratorium, melainkan segera dihilirkan menjadi Penemuan yang Bisa meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.



Mentan Andi Amran Sulaiman ajak perguruan tinggi perkuat hilirisasi riset pertanian. (Dok. Istimewa)

Hal tersebut disampaikan Mentan Amran usai mengikuti Sarasehan Kebangsaan yang dihadiri lebih dari 2.600 peserta, terdiri atas 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen, ratusan ilmuwan, serta peneliti dari berbagai lembaga, Sabtu, 27 Juni 2026.

“Insya Allah, kita akan berkolaborasi ke depan. Kita akan tingkatkan kolaborasi yang selama ini sudah dibangun,” ujar Mentan Amran.

Menurut Amran, berbagai Penemuan yang lahir dari perguruan tinggi telah membuktikan kemampuannya meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Salah satunya melalui teknologi benih yang Bisa menghasilkan produktivitas padi jauh di atas rata-rata nasional.

“Produktivitas padi sebelumnya Sekeliling 5,5 ton per hektare. Dari IPB sudah Terdapat yang mencapai 9 ton, bahkan Tamat 13,9 ton per hektare. Ini Dekat dua kali lipat. Itu karena teknologi,” jelasnya.

Tak hanya pada tanaman pangan, Penemuan di sektor peternakan juga Bisa menghasilkan lompatan produktivitas.

“Terdapat juga sapi yang bobotnya dulu 500 kilogram, di UGM Bisa menjadi satu ton,” ungkapnya.

Amran mengatakan kolaborasi Kementerian Pertanian dengan berbagai perguruan tinggi telah melahirkan banyak Penemuan yang siap diterapkan secara luas, mulai dari benih unggul, mekanisasi pertanian, hingga teknologi pascapanen.

“Kami dengan IPB mengembangkan benih unggul. Benih padi hasil riset IPB kami beli Rp250 miliar. ITS mengembangkan traktor dan alat panjat kelapa. Unhas menghasilkan Penemuan ayam dan jagung. Universitas Andalas mengembangkan gambir, Universitas Lampung mengembangkan ubi, sementara ITB mengembangkan teknologi dryer. Sekalian ini harus kita hilirkan agar manfaatnya Betul-Betul dirasakan petani,” katanya.

 

Menurut Amran, Penemuan yang lahir dari kampus merupakan Unsur Esensial yang akan menentukan lompatan produksi nasional.

“Nah, ini kolaborasi yang sangat Berkualitas. Karena penemuan-penemuan baru yang Bisa Membangun lonjakan produksi maupun produktivitas berasal dari Penemuan,” ujarnya.

Ia menegaskan Indonesia Mempunyai Kesempatan besar menjadi salah satu negara superpower melalui sektor pangan apabila seluruh kekuatan bangsa bersatu membangun ekosistem riset dan Penemuan.

“Kalau kita mau menjadi superpower, tumpuannya adalah Penemuan baru dari kampus. Ini luar Lazim dan harus Maju kita dorong,” tegas Amran.

Ajakan tersebut mendapat sambutan positif dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Menurutnya, sinergi antara Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis Buat mempercepat hilirisasi hasil riset sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh petani dan pelaku usaha pertanian.

“Tadi Bapak Menteri Pertanian menyampaikan keinginan yang sangat kuat agar perguruan tinggi ditantang menghasilkan Penemuan yang siap dihilirkan. Produk-produk pendukung pertanian seperti elektronika, alat pertanian modern, hingga precision agriculture harus segera dimanfaatkan,” ujar Brian.

Ia mengatakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan segera menginventarisasi berbagai hasil penelitian yang siap dikembangkan Serempak Kementerian Pertanian.

“Ini merupakan kolaborasi yang sangat luar Lazim. Bapak Menteri Pertanian sangat terbuka dan sangat menunggu produk-produk perguruan tinggi yang siap dikerjasamakan. Kami akan segera menginventarisasi dan menyampaikannya kepada Bapak Menteri,” katanya.



Mentan Andi Amran Sulaiman ajak perguruan tinggi perkuat hilirisasi riset pertanian. (Dok. Istimewa)

Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto Begitu membuka Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026, Jumat, 26 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi motor kebangkitan bangsa melalui riset dan Penemuan yang Bisa menjawab tantangan nasional, termasuk mewujudkan kemandirian pangan dan memperkuat industri nasional.

Presiden menilai Indonesia Mempunyai seluruh modal Buat menjadi negara maju, termasuk menjadi superpower melalui kekuatan pangan, apabila pemerintah, perguruan tinggi, ilmuwan, peneliti, dan dunia industri Bisa berkolaborasi menghasilkan Penemuan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Karena itu, hasil riset Enggak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dihilirkan menjadi teknologi yang meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat daya saing bangsa.

“Saya berkali-kali datang kepada kampus. Saya tanya profesor-profesor IPB, kenapa kita Enggak Bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor gandum?” ujar Presiden.

Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa Buat berani memulai berbagai terobosan melalui penguatan riset dan Penemuan.

“Enggak apa-apa, minimal kita mulai. Kita harus berani mulai. Kita adalah negara keempat terbesar di dunia. Kita adalah negara yang kekayaannya luar Lazim,” tegas Presiden.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Kementerian Pertanian Maju memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri agar semakin banyak Penemuan yang dapat dihilirkan Buat meningkatkan produktivitas pertanian, mempercepat swasembada pangan berkelanjutan, dan mengantarkan Indonesia menjadi negara superpower melalui kekuatan pangan.