perbankan perlu menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dan produktif dengan memprioritaskan sektor-sektor produktif
Jakarta (ANTARA) – Ketua Lumrah Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menekankan bahwa konsistensi perbankan dalam membangun Biaya murah, yakni tabungan dan giro, menjadi fondasi yang Bukan boleh diabaikan dalam menghadapi ketatnya likuiditas.
Di samping itu, ia juga menegaskan pentingnya menjaga disiplin manajemen aset dan liabilitas di tengah likuiditas yang menyempit.
“Ketahanan likuiditas adalah non-negotiable,” kata Hery yang juga merupakan Direktur Penting BRI dalam acara Mid Year Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat.
Selain menjaga likuiditas, Hery mengatakan perbankan perlu menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dan produktif dengan memprioritaskan sektor-sektor produktif.
Hal ini dilakukan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent), menetapkan risk appetite sektoral yang sesuai dengan kondisi makroekonomi terkini, serta membangun pipeline kredit berkualitas melalui pendekatan ekosistem yang lebih komprehensif.
Hery juga menekankan pentingnya pengelolaan kualitas aset secara proaktif melalui proses underwriting yang ketat, sistem early warning yang lebih granular, serta kesiapan fungsi penagihan (collection readiness) apabila kualitas kolektibilitas mulai menurun.
Selain itu, Percepatan transformasi digital dan pemanfaatan analitik data dinilai bukan Tengah sekadar strategi jangka menengah, melainkan telah menjadi kebutuhan bisnis bagi industri perbankan Begitu ini.
Seiring dengan kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026, Hery mengatakan kondisi tersebut secara struktural akan meningkatkan tekanan repricing Biaya pihak ketiga (DPK).
Kenaikan Bangsa Kembang simpanan yang terjadi belakangan juga diperkirakan akan menekan net interest margin (NIM) perbankan.
Ia menambahkan bahwa cost of fund perbankan juga diperkirakan cenderung meningkat sehingga disiplin dalam pengelolaan bisnis menjadi kunci. Menurutnya, industri perbankan kini memasuki era selective growth atau pertumbuhan yang lebih selektif.
Meski secara Lumrah industri perbankan Tetap tergolong solid, ia menilai mulai muncul sejumlah tekanan. Pertumbuhan DPK mulai melambat, NIM terkompresi, dan rasio kecukupan modal (CAR) sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
“Dengan kata lain, perbankan Tetap kuat, tetapi operating environment perbankan sekarang menjadi cukup challenging,” kata Hery.
Sementara dari sisi penyaluran kredit, nilai undisbursed loan juga Tetap cukup besar. Menurutnya, Konsentrasi perbankan Bukan cukup hanya pada pemberian persetujuan fasilitas kredit, tetapi juga harus mendorong agar plafon kredit yang telah disetujui Benar-Benar dimanfaatkan debitur Kepada Pengembangan usaha.
Hery juga Menyantap adanya paradoks di industri perbankan. Di satu sisi, standar pemberian kredit semakin Luas sehingga bank menjadi lebih akomodatif dalam menyalurkan pembiayaan. Tetapi di sisi lain, permintaan kredit baru Malah mengalami penurunan sebagaimana ditunjukkan dalam hasil Survei Perbankan oleh Bank Indonesia pada triwulan I 2026.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit juga belum merata antar Grup bank. Bank KBMI 3 dan KBMI 4 Tetap menjadi penopang Penting pertumbuhan kredit industri, sementara KBMI 1 dan KBMI 2 menunjukkan tren yang lebih volatil, bahkan sebagian Tetap mencatatkan pertumbuhan negatif.
Kalau dilihat berdasarkan segmen, ia mencatat penurunan permintaan kredit paling tajam terjadi pada kredit modal kerja, kredit konsumsi, dan kredit UMKM khususnya KUR. Ketiga segmen tersebut dinilai paling sensitif terhadap pelemahan daya beli, sentimen dunia usaha, serta ketidakpastian ekonomi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kualitas aset juga harus Lalu dijaga. Meskipun rasio loan at risk (LAR) perbankan pada awal 2026 menunjukkan tren penurunan secara bertahap, kenaikan BI-Rate, pelemahan nilai Salin rupiah, dan tekanan terhadap daya beli berpotensi membalikkan tren positif tersebut apabila Bukan direspons dengan Benar.
Karena itu, menurut Hery, setiap bank juga perlu Mempunyai watch list debitur yang berpotensi terdampak pelemahan nilai Salin, disertai strategi mitigasi yang siap dieksekusi sebelum permasalahan berkembang lebih besar.
