Fakta bahwa para Bakat terbaik kita berhasil menembus Perserikatan paling bergengsi di dunia patut menjadi sumber kebanggaan
Marco Palestra hanyalah yang terbaru. Sebelumnya, giliran Riccardo Calafiori, Sandro Tonali, Gianluigi Donnarumma, Micheal Kayode, dan Destiny Udogie—hanya Kepada menyebut beberapa kasus yang paling mencolok. Kita juga Dapat menambahkan Marco Verratti ke dalam daftar ini, yang sudah pada tahun 2012—yang terasa “sudah lelet sekali”—pindah dari Pescara ke Paris Saint-Germain tanpa pernah bermain di Serie A.
Sebaiknya kita mulai bersikap realistis dan sedikit mengurangi sikap chauvinistik, atau bahkan Dapat dibilang ketinggalan Era: kita sudah lelet menjadi Perserikatan dan gerakan sepak bola kelas dua, dan fakta bahwa beberapa Bakat terbaik kita memilih Doku, tetapi juga dan terutama prospek pertumbuhan yang lebih besar di Perserikatan seperti Premier League, harus dipandang dengan rasa puas di momen bersejarah ini ketika kita dituduh Enggak cukup mengekspor pemain-pemain berlevel tinggi. Dan bukan dengan retorika negatif yang Biasa, campuran antara Cemburu hati dan kesombongan, yang Enggak akan menghapus dalam sekejap begitu banyak masalah dan keterbatasan sepak bola kita di hadapan pesaing-pesaing Eropa.
