Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Demi meninjau transformasi kawasan penjara tersebut menjadi pusat ketahanan pangan dan pengembangan UMKM, Sabtu (20/6/2026).
Kunjungan kerja ini berfokus pada pemantauan Balai Latihan Kerja Tempat Pembuangan Akhir (BLK TPA) guna Menonton langsung proses pemberdayaan para Kaum binaan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Demi memantau proses pengolahan limbah, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto mempertanyakan hasil akhir dari pemilahan sampah yang dilakukan oleh para narapidana di Posisi tersebut.
“Sampah ini kan dipilah-pilah. Produknya jadinya apa nanti?” tanya Titiek kepada Kenalan yang digandeng pihak lapas Demi mengajarkan para narapidana (napi) Langkah mengolah sampah, Sabtu (20/6/2026).
Pihak Kenalan pengelola menjelaskan bahwa sampah organik diproses menjadi debu Demi pupuk tanah, sedangkan sampah plastik dipisahkan Demi dijual kembali. Menanggapi hal itu, Titiek menyarankan pengadaan sarana yang lebih modern.
“Mungkin ke depan Dapat cari mesin yang misahin plastik, jadi plastiknya diolah jadi apa,” tutur Titiek.
Lebih lanjut, legislator tersebut meminta agar pemisahan berbagai jenis limbah dapat diinisiasi langsung dari sektor domestik di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Pak Menteri, mungkin nanti ke depan dari dapur-dapur lapas itu pisahin mana sampah organik, sampah plastik. Sehingga mungkin yang organik Dapat jadi pupuk. (Dipisah antara) plastik, kaleng sama yang sayur-sayur,” ujar Titiek.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto yang mendampingi kunjungan tersebut menyambut Berkualitas poin-poin masukan yang disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPR RI.
“Sampah dapur ya, Bu. Berkualitas, terima kasih, Bu,” ucap Menteri Agus.
Sebelum melakukan peninjauan di fasilitas pengelolaan sampah, rombongan DPR RI Berbarengan jajaran Kemenimipas juga menyempatkan diri Menonton berbagai klaster produktif lain yang dikerjakan para narapidana.
Fasilitas yang dipantau meliputi lokakarya pembuatan batako dan paving block berbahan Fly Ash Bottom Ash (FABA), kawasan peternakan ayam dan bebek petelur, area persawahan, hingga pusat produksi pupuk kandang.
Langkah optimalisasi kawasan penjara ini bergulir setelah Menteri Agus Andrianto menerima laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyaknya lahan tidur Punya kementerian pascapelantikan oleh Presiden Prabowo.
Melalui pembangunan BLK, lahan-lahan Bukan produktif di Nusakambangan kini diubah menjadi wadah pelatihan keterampilan napi, mulai dari sektor konveksi, budidaya ikan sidat, tambak udang vaname, hingga peternakan sapi dan domba.
