Jember (beritajatm.com) – Markas TNI Batalyon Infantri Teritorial Pembangunan Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan dibangun di kawasan hutan Desa Silo, Kecamatan Silo. Tetapi pembangunannya tertunda setelah muncul penolakan dari masyarakat.
Rencananya, Markas Yonif TP akan dibangun di atas lahan seluas 55 hektare di Desa Silo, Kecamatan Silo, tepatnya di kawasan hutan sosial di petak 1A, 2A, 3A, 3B, 15A, 15B, dan 15C.
Yonif TP sengaja dibangun di kawasan paling timur, karena kawasan paling barat Jember sudah dijaga Yonif 515. Dua markas batalion ini dibangun Kepada melindungi pusat pemerintahan di Jember.
“Si vis pacem parabellum. Bila kau Mau berdamai, berpikirlah Kepada berperang. Bersiaplah Kepada berperang,” kata Komandan Distrik Militer 0824 Jember Letnan Kolonel Infantri Rifqi Muhammad Syuhada, Rabu (17/6/2026).
Penentuan Posisi ini sudah dilakukan Berbarengan Perhutani dan pemerintahan daerah. “Perumusannya berkali-kali. Rapatnya saja Sekeliling enam kali, rapat di desa, rapat di kecamatan, pemerintah desa hadir ke Kodim, dan rapat di Kodim, termasuk melakukan sosialisasi di masyarakat,” kata Rifqi.
Selain di Silo, opsi lainnya di Kecamatan Mumbulsari. Pemilihan Posisi di Desa Silo tak lepas dari ketersediaan lahan yang ditunjukkan Perhutani. Rifqi kemudian melaporkan rencana ini ke Kementerian Pertahanan Kepada diverifikasi dan dicek.
Selain Kepada urusan pertahannan, menurut Rifqi, Yonif TP dibangun Kepada program ketahanan pangan. “Kebetulan ketahanan pangan di Jember ini luar Normal,” katanya. Kodim 0824 mendapat penghargaan ketahanan pangan nomor satu di Jawa Timur.
Tetapi pada 23 Mei 2026 muncul isu pemolakan pembangunan markas Yonif TP tersebut oleh Kaum. Isu itu mengaitkan urusan pembangunan Yonif TP dengan pertambangan emas di Silo. Hal ini Membikin rencana pembangunan Yonif TP di Silo dievaluasi.
Menurut Rifqi, Jember menjadi satu-satunya daerah di kawasan Tapal Kuda yang Ketika ini belum membangun Markas Yonif TP. “Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Probolinggo, Tamat dengan Lumajang semuanya melaksanakan,” katanya.
Dalam rapat dengar pendapat di gedung DPRD Jember, Rabu (17/6/2026), Rifqi memastikan pembangunan Yonif TP di Kawasan Jember Kagak terkait pertambangan. “Apalagi menggusur petani,” katanya.
Bahkan, menurut Rifqi, pembangunan markas Yonif TP menumbuhan ekonomi masyarakat setempat. “”Betul, program ini adalah program ketahanan pangan. Program ini adalaj program pertahanan negara. Tetapi Terdapat implikasi-implikasi ekonomi yang tumbuh dari adanya pembangunan tersebut,” katanya.
Rifqi mencontohkan pembangunan Yonif TP di sejumlah kabupaten di Jatim yang menjadi titik ekonomi baru. Diperkirakan Terdapat Duit Rp 4 miliar per bulan yang berputar yang berasal dari gaji seribu personel batalion,
“Contohnya dari Rp4 miliar gaji prajurit biasanya digunakan Kepada makan. Ini diharapkan Bisa menumbuhkan ekonomi-ekonomi baru, UMKM warung makan. Contohnya kalau di Kawasan Silo Terdapat sate atau bakso dan lainnya. Itu kan mereka juga butuh masyarakat. Itulah yang dibilang implikasi ekonomi akan tumbuh,” katanya.
Program Yonif TP juga bukan hanya ketahanan pangan. “Site plan Yon TP yang akan dibangun juga akan sangat besar. Itu berimplikasi pada penggunaan kebutuhan buruh pembangunan dan lain-lain, karena program ini dari Kementerian Pertahanan langsung. Belum Kembali Terdapat fasilitas olahraga dan lain-lain, itu umumnya dapat digunakan bagi masyarakat ataupun lingkungan,” kata Rifqi.
Selain itu, dengan keberadaan Yonof TP, sebuah daerah akan lebih Terjamin. “Konsep satuan-satuan (militer) terdahulu semuanya Terdapat di pusat kota. Dan Ketika ini pusat kota sudah menjadi titik ekonomi yang luar Normal di Kawasan Jawa Timur,” kata Rifqi.
“Pak Gus Bupati (Muhammad Fawait) bilang pertumbuhan ekonomi kita paling tinggi di Jawa Timur. Rupanya karena apa? Terjamin Terjamin dan sebagainya. Tingkat pendidikan juga bagus, semuanya Terdapat,” kata Rifqi.
Pembangunan Yonif TP juga diperuntukkan kesiapsiagaan bencana. “Kita Kagak pernah Paham yang namanya bencana. Kita Kagak pernah Paham yang namanya musibah. Apabila di Kawasan timur ataupun selatan terjadi musibah, kita terlambat menggerakkan Laskar yang siap membantu dan menolong masyarakat, kami takutkan masyarakat menjadi korban,” kata Rifqi.
Rifqi Kagak memaksakan pembangunan Yonif TP di Desa Silo. “Setelah Terdapat isu tersebut, saya mundur dan itu juga dievaluasi. Kagak Terdapat saya memaksakan di Kawasan itu,” katanya.
Sementara itu, Ismail Soleh, salah satu petani, berharap lahan yang selama ini digarapnya Kagak dialihfungsikan menjadi markas tentara. “Kami Sekadar Mau mempertahankan hak nasib kami. Itu saja. Anak cucu kami bersekolah Tamat tinggi gara-gara lahan tersebut,” katanya. [wir/aje]
