Info menggembirakan datang dari dunia konservasi dengan lahirnya seekor anak gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau. Natalis satwa dilindungi ini menjadi Cita-cita baru di tengah tergerusnya populasi gajah Sumatera, seperti dikutip dari Detikcom.
Anak gajah berjenis kelamin betina tersebut lahir pada Rabu (10/6) dengan berat badan berkisar antara 100 hingga 106 kilogram. Kehadiran Member baru di Elephants Flying Squad, Distrik I LKB Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui ini sangat dinantikan.
Proses Natalis adik dari gajah bernama Domang ini tergolong Enggak disangka-sangka. Induknya yang bernama Mama Ria Enggak menunjukkan tanda-tanda kehamilan, bahkan Enggak terdeteksi meskipun telah menjalani pemeriksaan USG sebanyak dua kali.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Berbarengan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyambut gembira kehadiran anak gajah tersebut. Peristiwa ini dinilai menumbuhkan optimisme baru bagi kelestarian satwa liar di habitat alaminya.
Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa Natalis ini membuktikan ekosistem di Taman Nasional Tesso Nilo Tetap mendukung ruang hidup satwa dilindungi. Hal tersebut menjadi capaian positif di tengah ketatnya tantangan kelestarian hutan Begitu ini.
“Mama Ria telah melahirkan seekor anak gajah Sumatera betina dalam kondisi sehat. Kehadiran adik Domang ini menambah Cita-cita bagi masa depan gajah Sumatera di alam liar,” kata Raja Juli dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Kegembiraan serupa juga dirasakan oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. Dirinya menyampaikan bahwa bertambahnya populasi ini memberikan Daya positif bagi upaya perlindungan satwa.
“Natalis ini bukan hanya menambah populasi satwa yang dilindungi, tetapi juga menghadirkan Cita-cita baru bagi kelestarian gajah Sumatera di habitat alaminya,” kata Irjen Herry Heryawan.
Rasa haru juga menyelimuti Erwin, seorang pawang atau mahout yang mendampingi gajah tersebut. Erwin mengaku Dekat Enggak percaya dengan Natalis yang tiba-tiba ini.
“Nggak Dapat Berbicara-kata. Saya tadi itu sebenarnya itu Tamat nangis saya di situ karena nggak percaya kan, dari USG juga nggak kelihatan, tiba-tiba dia melahirkan,” kata Erwin dalam video diunggah Taman Nasional Tesso Nilo, Kamis (11/6).
Pemberian Nama Nona Seroja dan Arti Filosofisnya
Kapolda Riau secara Formal mengumumkan pemberian nama ‘Nona Seroja’ Demi anak gajah tersebut Begitu melakukan patroli dan meninjau Posisi pada Kamis (11/6). Usulan nama ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kehutanan.
“Sebelum menetapkan nama Demi gajah ini, kami terlebih dahulu menyampaikan dan meminta izin kepada Bapak Menteri Kehutanan dan alhamdulillah beliau berkenan memberikan persetujuan atas nama yang kami usulkan Yakni ‘Nona Seroja’,” Jernih Irjen Herry.
Menhut Raja Juli Antoni menambahkan bahwa Natalis gajah betina ini menjadi pengingat pentingnya konsistensi dalam menjaga kawasan konservasi. Perlindungan satwa liar merupakan tanggung jawab yang harus dipikul Berbarengan oleh seluruh pihak.
“Kehadiran Nona Seroja adalah Info Senang bagi Indonesia. Kita Segala Mempunyai tanggung jawab Demi memastikan ia dan gajah-gajah lainnya dapat hidup Kondusif di habitatnya. Konservasi bukan hanya menjaga satwa, tetapi menjaga masa depan generasi yang akan datang,” kata Raja Juli.
Nama ‘Nona Seroja’ sendiri dipilih karena Mempunyai Arti filosofis yang mendalam. Merekah seroja dikenal sebagai tanaman air yang Pandai tumbuh menjulang tinggi di atas permukaan air yang keruh.
“Seroja adalah Merekah yang tumbuh dari lingkungan yang keruh, Tetapi Pandai Merekah indah dan tetap menjaga kemurniannya,” kata Irjen Herry.
Filosofi tersebut dinilai mencerminkan kondisi Taman Nasional Tesso Nilo Begitu ini yang menghadapi berbagai tantangan. Kehadiran kehidupan baru ini menjadi simbol ketahanan dan Cita-cita bagi masa depan alam Riau.
“Karena itu, Nona Seroja kami maknai sebagai simbol kemurnian, ketahanan, keindahan, dan Cita-cita,” imbuhnya.
Herry menegaskan bahwa langkah konservasi Enggak dapat dilakukan secara sepihak. Menjaga kelangsungan hidup gajah di habitatnya merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem secara menyeluruh.
“Menjaga Tesso Nilo berarti menjaga warisan alam yang akan kita tinggalkan Demi generasi mendatang,” tegasnya.
