Amerika Perkumpulan Kembali Serang Iran Usai Negosiasi Damai Tersendat

Militer Amerika Perkumpulan melancarkan serangan udara susulan terhadap sejumlah Sasaran di Iran pada Rabu, 11 Juni 2026 pukul 17.15 waktu New York, menyusul tuduhan Presiden Donald Trump bahwa Teheran memperlambat pembahasan kesepakatan damai sementara. Aksi militer berturut-turut dalam dua hari ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache Punya AS pada Selasa, sekaligus menjadi indikasi runtuhnya gencatan senjata yang sempat disepakati pada April Lampau, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Hingga kini, ketegangan ini menyebabkan Jalur perdagangan minyak Dunia di Selat Hormuz Tetap tertutup sebagian meskipun AS Lanjut berupaya melonggarkan tekanan dari pihak Iran.

Sebelum serangan terbaru Formal diumumkan kepada publik, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai tindakan militer ini Demi berada di Gedung Putih.

“Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump. Presiden AS tersebut menolak Demi merinci lebih lanjut mengenai Letak serta infrastruktur yang menjadi sasaran tembak Laskar militer negaranya.

“Kami menghantam mereka keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka keras Tengah hari ini,” ujar Trump. Pihak Kementerian Luar Negeri Iran merespons tindakan tersebut dengan menuduh Washington telah menyasar infrastruktur sipil dalam serangan udara itu.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjelaskan bahwa operasi militer ini sengaja dilakukan sebagai instrumen penekan agar Iran bersedia menyelesaikan kesepakatan damai. “Kami akan menghantam mereka keras malam ini, dan semoga Iran Membangun keputusan yang Bagus,” kata Hegseth. Setelah operasi udara berlangsung, Trump mengeklaim pihaknya telah mengamankan jalur maritim strategis tersebut dan membantu ratusan kapal dagang melintas.

Menurut Trump, militer AS telah membantu lebih dari 200 kapal komersial melintasi jalur perairan Krusial tersebut, sehingga lebih dari 100 million barel minyak berhasil mencapai pasar.

Trump juga menegaskan posisi geopolitik negaranya di kawasan perairan vital tersebut. Trump juga mengeklaim AS mengendalikan Selat Hormuz, “bukan Iran.” Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa negosiasi diplomatik Tetap berjalan di tengah penerapan strategi tekanan maksimum terhadap Teheran.

Sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik, Kantor Berita semi-Formal Iranian Students’ News Agency melaporkan bahwa delegasi dari Qatar telah mendarat di Teheran pada Rabu Demi memfasilitasi proses diplomasi guna mengakhiri perang.