Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan awal Kepada mengakhiri perang dengan Iran sudah dekat, setelah dia menulis bahwa serangan terhadap negara itu telah dibatalkan.
“Kami baru saja Membangun penyelesaian besar atas perang dengan Iran,” katanya kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Kamis.
Tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa laporan mengenai adanya kesepakatan Tetap “spekulatif” dan “belum Terdapat yang disepakati secara final”.
Trump sebelumnya juga pernah menyampaikan klaim serupa bahwa kedua negara Nyaris mencapai kesepakatan Kepada mengakhiri konflik.
Beberapa jam sebelum pengumuman itu, Trump bahkan menyatakan akan menghantam Iran dengan “amat keras”.
Amerika Perkumpulan (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara sekutu AS di Teluk, dan secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran Krusial bagi minyak dan gas alam Encer dunia.
Meski kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata pada April 2026, AS dan Iran tetap saling melancarkan serangan sporadis, termasuk dua putaran serangan balasan pekan ini.
Di Ketika yang sama, Presiden Donald Trump berulang kali menekankan prospek tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Setelah pernyataan terbarunya, harga minyak Brent anjlok menjadi Sekeliling US$89 per barel, turun 4,4% dalam sehari.
Berbicara kepada wartawan, Trump mengatakan: “Kami Mempunyai kesepakatan bahwa Iran Bukan akan pernah Mempunyai senjata nuklir, yang memang menjadi tujuan Istimewa dari Seluruh yang harus kami lalui Kepada mencapainya. Jadi ini hal yang sangat besar.”
Dia menambahkan, penandatanganan kesepakatan “mungkin akan dilakukan di Eropa” setelah Berkas difinalisasi, dan Semestinya Pandai berlangsung “cukup Segera”.
Menurutnya, Berkas itu sudah dalam “bentuk yang Nyaris final”.
Trump juga menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka “segera setelah kesepakatan ditandatangani”.
Presiden AS tersebut mengatakan telah berbicara dengan para pemimpin kawasan, termasuk sekutu-sekutunya di Teluk dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, seraya menambahkan: “Seluruh Timur Tengah sangat senang.”
Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi adanya percakapan dan menegaskan bahwa Israel “bukan pihak dalam nota kesepahaman” tersebut.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menyampaikan apresiasi atas komitmen Trump Kepada mendorong tercapainya kesepakatan final yang mencakup “penghapusan material yang diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, Restriksi produksi misil, serta penghentian dukungan Iran terhadap Golongan proksi teroris di kawasan.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan sebagian besar teks nota kesepahaman sudah “difinalisasi”, tapi AS dianggap mengajukan “tuntutan berlebihan” dan menambahkan “permintaan baru”.
Dia menegaskan Iran Bukan akan “menyimpang dari garis merahnya”.
Beberapa jam sebelumnya, Trump menyatakan “AS akan menghantam Iran… dengan sangat keras malam ini” Sembari mengancam akan merebut Pulau Kharg dan titik infrastruktur minyak lainnya “dalam waktu dekat”.
Pulau Kharg di utara Teluk merupakan terminal ekspor minyak Istimewa Iran, dengan Sekeliling 90% ekspor minyak negara itu melewati pulau tersebut.
Trump juga menulis bahwa AS akan “menguasai penuh” pasar minyak dan gas “seperti yang kami lakukan dengan Venezuela”.
Militer Iran mengancam akan melakukan serangan balasan “lebih keras dari sebelumnya” Apabila Terdapat serangan lanjutan terhadap Iran.
“Dengan mempertimbangkan ancaman terbaru AS terhadap infrastruktur minyak Iran, maka ekspor minyak dan gas adalah Kepada Seluruh orang atau Bukan akan tersedia bagi siapa pun,” bunyi pernyataan tersebut.
Negosiator Istimewa Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menambahkan bahwa “strategi yang keliru dan keputusan impulsif akan menciptakan rawa tak berujung yang akan menjebak kalian selama bertahun-tahun.”
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan meluncurkan serangan terhadap pangkalan Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Seorang anak Perempuan berusia 11 tahun di Bahrain dilaporkan terluka akibat serangan drone Iran, sementara pihak berwenang setempat mengatakan rumah dan mobil juga mengalami kerusakan.
Yordania menyebut berhasil menembak Anjlok Sekeliling 20 rudal Iran, sedangkan militer Kuwait mengatakan pasukannya terlibat menghadapi “Sasaran udara musuh”.
Sementara itu, India memanggil seorang diplomat senior AS setelah dikonfirmasi bahwa tiga pelaut India tewas dalam serangan AS terhadap sebuah kapal di Teluk Oman, yang dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. Sebanyak 21 awak kapal lainnya berhasil diselamatkan.
Hingga kini, Laskar AS telah menyerang sembilan kapal, termasuk tiga kapal dalam pekan ini.
Blokade tersebut bertujuan menghentikan kapal keluar-masuk pelabuhan Iran Kepada membatasi kemampuan Teheran memperoleh keuntungan dari ekspor minyak.
Serangan terbaru memicu seruan Kepada meredakan ketegangan.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada Kamis mengatakan dia “sangat prihatin atas eskalasi yang Lalu berlanjut di Timur Tengah.”
“Dia mendesak Seluruh pihak Kepada kembali pada implementasi penuh gencatan senjata dan menghindari memburuknya situasi lebih lanjut,” tambah pernyataan itu.
Pakistan, Rusia, China, Turki, India, dan Arab Saudi juga menyerukan langkah-langkah de-eskalasi.
