Rasulullah Mengingatkan Bahaya Ketamakan Mahluk yang Tak Pernah Puas

Mahluk sering kali dihadapkan pada keinginan yang Tak Terdapat habisnya di tengah kehidupan modern yang kompetitif. Begitu satu impian atau Sasaran tercapai, Sasaran berikutnya segera muncul Buat dikejar.

Kondisi psikologis tersebut telah digambarkan secara Terang oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, seperti dikutip dari Sinar.

Rasulullah bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ.

“Seandainya anak Adam Mempunyai satu lembah berisi emas, Niscaya ia akan menginginkan dua lembah. Dan Tak Terdapat yang Dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR Bukhari No. 6439)

Hadits ini mengungkap kecenderungan dalam diri Mahluk yang Maju menambah dan mengumpulkan harta tanpa rasa puas. Rasulullah SAW menggambarkannya lewat perumpamaan seseorang yang Mempunyai satu lembah emas Tetapi tetap mengharapkan lembah berikutnya.

“Pesan yang Mau disampaikan bukanlah Embargo Buat bekerja keras atau mencari rezeki. Islam Malah mendorong umatnya Buat berikhtiar dan meraih kehidupan yang Berkualitas. Tetapi, Islam mengingatkan agar harta Tak berubah menjadi tujuan hidup yang menguasai hati,” kata Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin.

Persoalan Esensial sering kali bukan terletak pada jumlah materi, melainkan hilangnya rasa cukup dari dalam diri. Ketamakan di dalam hati Membangun berapa pun yang dimiliki akan selalu terasa kurang bagi Mahluk.

Sebaliknya, sifat qanaah atau merasa cukup atas karunia Allah dapat memberikan ketenangan hidup meskipun dalam kesederhanaan.

Peringatan mendalam mengenai tanah dalam hadits tersebut disimbolkan para ulama sebagai Kematian. Ambisi duniawi yang Tak terkendali dari Mahluk sering kali baru Dapat berhenti ketika kehidupan di dunia telah berakhir.

Kesibukan mengejar materi kerap Membangun Mahluk lupa bahwa hidup di dunia bersifat sementara, sehingga persiapan menuju akhirat Malah terabaikan.

Tetapi, hadits ini ditutup dengan kalimat yang membawa Asa mengenai pintu taubat Allah yang senantiasa terbuka lebar.

“Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.”

Kalimat penutup tersebut menunjukkan bahwa Mahluk Tetap dapat kembali kepada Allah dengan memperbaiki niat dan menjadikan akhirat sebagai orientasi Esensial.

Terdapat tiga pelajaran Krusial yang Dapat dipetik dari pesan Rasulullah SAW mengenai perilaku Mahluk ini.

Pertama, ketamakan merupakan sifat tercela yang harus diwaspadai karena dapat menjauhkan diri dari rasa syukur.

Kedua, harta bukanlah ukuran kebahagiaan karena ketenangan sejati lahir dari hati yang merasa cukup.

Ketiga, seorang mukmin hendaknya menjadikan amal saleh dan kehidupan akhirat sebagai cita-cita terbesar tanpa terjebak perlombaan dunia.

Mahluk Tak akan membawa harta yang dikumpulkannya sepanjang hidup ke hadapan Allah, melainkan hanya amal dan ketakwaan.

Begitu dunia menawarkan banyak keinginan, seorang mukmin perlu mengingat bahwa sebanyak apa pun materi yang dimiliki, hati yang Tak dijaga akan selalu merasa kurang.