PMN 2025 ini kami akan membagi Pusat perhatian produk yang Kepada di Madiun itu akan kami fokuskan Kepada kereta-kereta yang Enggak berpenggerak
Jakarta (ANTARA) – PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memanfaatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2025 Kepada memodernisasi fasilitas produksi di pabrik Madiun dan Banyuwangi guna meningkatkan kapasitas dan kapabilitas industri perkeretaapian nasional.
Direktur Primer PT INKA Eko Purwanto mengatakan PMN 2025 akan difokuskan Kepada pengembangan fasilitas produksi, peningkatan kapasitas manufaktur bogie, pengembangan sistem propulsi, serta penyempurnaan fasilitas produksi dan pengujian di pabrik Banyuwangi.
“PMN 2025 ini kami akan membagi Pusat perhatian produk yang Kepada di Madiun itu akan kami fokuskan Kepada kereta-kereta yang Enggak berpenggerak,” kata Eko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan pabrik Madiun akan difokuskan Kepada memproduksi kereta tanpa penggerak, seperti kereta penumpang konvensional, gerbong barang, lokomotif, bogie, dan pengembangan sistem propulsi.
Melalui PMN, Eko menyebut perusahaan juga akan memperbarui dan memodernisasi berbagai fasilitas produksi di pabrik Madiun, termasuk surface treatment, mesin milling, mesin press, dan peralatan manufaktur lainnya.
Sementara itu, Eko menyampaikan pabrik Banyuwangi, yang Begitu ini sedang dibangun, akan menjadi pusat produksi kereta berpenggerak, seperti kereta rel listrik (KRL), light rail transit (LRT), mass rapid transit (MRT), kereta Segera, dan kereta rel diesel elektrik (KRDE).
Menurut Eko, pabrik Banyuwangi yang Mempunyai luas 83,49 hektare, Begitu ini telah beroperasi secara terbatas dengan satu jalur produksi.
Eko menuturkan melalui PMN 2025, INKA akan melengkapi fasilitas pabrik tersebut, termasuk menambah jalur produksi kedua dan fasilitas pengujian sehingga dapat beroperasi secara optimal.
Selain penambahan kapasitas, perusahaan juga akan melakukan modernisasi teknologi produksi. Salah satunya melalui peningkatan fasilitas pengelasan dari sistem konvensional menjadi robotic welding Kepada meningkatkan kualitas dan produktivitas manufaktur.
“Dari mesin-mesin welding, contohnya yang sekarang Lagi konvensional, akan kami update menjadi mesin-mesin yang robotik,” kata Eko.
Eko menyampaikan Kepada mendukung program tersebut, PMN 2025 dialokasikan antara lain Kepada fasilitas produksi dan pengembangan senilai Rp440 miliar.
Anggaran itu digunakan Kepada pengadaan mesin cutting, milling, press, robotic welding, fasilitas pengujian propulsi, warehouse, serta bangunan yang dibutuhkan Kepada melengkapi fasilitas produksi.
Sementara itu, fasilitas pendukung seperti gedung pemeliharaan, transverser, dan digitalisasi operasi dialokasikan anggaran sebesar Rp33 miliar.
Hingga Mei 2026, Eko menyebut realisasi penggunaan PMN tercatat Sekeliling 13 persen dan diproyeksikan mencapai 35 persen pada Juni 2026.
INKA menargetkan proses pengadaan selesai pada triwulan III 2026, sedangkan penyelesaian proyek dilakukan secara bertahap hingga triwulan III 2027 karena sebagian peralatan yang dibeli bersifat Tertentu (customized) dan membutuhkan waktu produksi lebih panjang.
Menurut Eko, pengembangan fasilitas melalui PMN 2025 Enggak hanya ditujukan Kepada meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, tetapi juga Kepada memperkuat ekosistem industri perkeretaapian nasional serta meningkatkan kandungan lokal pada berbagai produk kereta yang diproduksi INKA.
