Jakarta (ANTARA) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkuat kapasitas layanan KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung melalui peningkatan daya listrik dan modernisasi persinyalan guna memenuhi pertumbuhan mobilitas masyarakat.
Direktur Penting PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung Lanjut meningkat sehingga pihaknya Berbarengan Kemenhub berupaya meningkatkan kapasitas sarana dan infrastruktur yang tersedia di lintas tersebut.
“Peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” kata Bobby dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Langkah pertama yang akan dilakukan meliputi penguatan sistem listrik Aliran atas (LAA) pada lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Demi ini, daya listrik pada lintas tersebut berada pada level 3.000 volt, sementara lintas Bogor dan Bekasi telah didukung daya sebesar 4.000 volt.
Perbedaan kapasitas tersebut menyebabkan rangkaian dengan stamformasi 12 kereta belum dapat dioperasikan sehingga kapasitas angkut Tetap bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta.
Kepada mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penguatan pasokan daya itu menjadi fondasi Krusial Kepada mendukung operasional rangkaian 12 kereta.
Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat sehingga ruang gerak pelanggan Demi jam sibuk menjadi lebih Bagus.
Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub sebagai regulator perkeretaapian nasional.
Kolaborasi itu mencakup perencanaan penguatan sistem kelistrikan, pengembangan kapasitas lintas, hingga modernisasi sistem operasi yang diperlukan Kepada menjawab pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat di koridor Tanah Abang–Rangkasbitung.
Kapasitas angkut yang lebih besar akan membuka Kesempatan tersedianya layanan yang lebih nyaman, mengurangi tingkat kepadatan pada perjalanan tertentu, serta mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat yang Lanjut berkembang di Kawasan barat Jabodetabek.
“Selain penguatan daya listrik, KAI Berbarengan DJKA Kementerian Perhubungan juga akan melakukan modernisasi sistem persinyalan,” tutur Bobby.
Demi ini sebagian sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung Tetap menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Dalam sistem tersebut, satu blok yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta pada waktu yang sama.
Kondisi tersebut berdampak pada waktu antar perjalanan kereta (headway) yang Demi ini berada pada kisaran 10 menit. Sebagai Komparasi, lintas Bekasi dan Bogor telah Bisa melayani perjalanan dengan headway Sekeliling 3 hingga 4 menit.
Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat.
Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan.
“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan,” tambah Bobby.
KAI Memperhatikan peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line sebagai investasi jangka panjang Kepada mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan.
Seiring berkembangnya pusat permukiman, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial di sepanjang lintas tersebut, kebutuhan terhadap transportasi massal yang Kondusif, andal, dan berkapasitas besar akan Lanjut meningkat.
Melalui kolaborasi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan, penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan diharapkan Bisa menghadirkan kapasitas layanan yang lebih besar, frekuensi perjalanan yang lebih rapat, serta pengalaman perjalanan yang semakin nyaman bagi masyarakat.
Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung menjadi salah satu jalur Penting yang menghubungkan kawasan permukiman di Kawasan barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta serta sekitarnya.
KAI mencatat volume pengguna KRL pada lintas Rangkasbitung Lanjut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 43.317.716 orang.
Nomor tersebut meningkat menjadi 62.085.471 pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69.999.362 pelanggan pada 2024, dan kembali naik menjadi 77.552.716 pelanggan pada 2025. Memasuki periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33.397.420 orang.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari.
Setiap harinya, layanan ini dimanfaatkan oleh pekerja, pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, hingga masyarakat yang mengakses berbagai layanan di kawasan Jabodetabek.
Seiring meningkatnya jumlah pelanggan, tingkat okupansi pada jam sibuk juga Lanjut bertambah. Demi ini, okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai Sekeliling 161 persen, tertinggi di antara lintas Commuter Line lainnya.
Sebagai Komparasi, okupansi puncak lintas Bogor berada pada kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang Sekeliling 140 persen.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line merupakan bagian dari upaya jangka panjang Kepada menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang Lanjut berkembang.
“Kolaborasi antara KAI Berbarengan DJKA Kementerian Perhubungan menjadi fondasi Krusial dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung,” kata Anne.
