Kisah hidup Ali bin al-Muwaffaq menjadi potret mendalam tentang keikhlasan dan hakikat ibadah di sisi Allah SWT. Penjual sepatu sederhana dari Kota Damaskus, Suriah ini membuktikan bahwa kemuliaan besar Pandai diraih tanpa harus berlimpah harta, seperti dikutip dari Terang.
Cerita Ali bin al-Muwaffaq ini diabadikan dalam Naskah 198 Kisah Haji Wali-wali Allah yang ditulis oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny. Melalui catatan tersebut, ia dikenal sebagai sosok yang mendapatkan kemuliaan besar di Demi ratusan ribu orang pergi ke Tanah Kudus.
Ali bin al-Muwaffaq sebenarnya Mempunyai impian besar Kepada menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, ia konsisten menyisihkan sebagian kecil keuntungan dari hasil penjualan sepatu yang ia buat setiap hari.
Ikhtiar dan pengorbanan ini ia jalani selama empat Sepuluh tahun. Setelah 40 tahun menabung, Duit yang dikumpulkan akhirnya mencapai 350 dirham, jumlah yang cukup Kepada membiayai perjalanan haji pada masa itu.
Tetapi, sebuah peristiwa mengubah rencana tersebut ketika hari keberangkatan sudah dekat. Istri Ali yang sedang hamil mencium aroma masakan dari rumah tetangga dan meminta suaminya Kepada meminta sedikit makanan tersebut.
Demi Ali mendatangi rumah tetangganya, ia mendapati Realita yang memilukan. Pria pemilik rumah menangis dan mengaku bahwa keluarganya telah kelaparan selama tiga hari karena Enggak Mempunyai makanan sama sekali.
Demi menyambung hidup anak-anaknya, tetangga tersebut terpaksa memasak bangkai keledai yang ia temukan hari itu.
“Ini bukan makanan yang halal bagimu,” kata tetangga itu kepada Ali bin al-Muwaffaq.
Perkataan itu Membikin hati Ali terguncang dan langsung pulang dengan pergulatan batin yang berat. Ia dihadapkan pada pilihan antara tabungan haji hasil kerja keras 40 tahun atau menyelamatkan tetangganya yang kelaparan.
Hati nurani Ali akhirnya memilih Kepada menyerahkan seluruh Duit 350 dirham miliknya tanpa sisa kepada tetangga tersebut.
“Belanjakanlah ini Kepada anak-anakmu,” katanya.
Keputusan tersebut Membikin impian Ali Kepada Menonton Ka’bah secara lahiriah sirna demi menyelamatkan sebuah keluarga dari keputusasaan.
Di Demi yang sama, seorang ulama besar Spesialis hadits bernama Abdullah bin al-Mubarak sedang berhaji di Makkah. Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, ia bermimpi Menonton dua malaikat turun dari langit.
Dalam mimpi itu, kedua malaikat berbincang mengenai jumlah jemaah haji tahun tersebut.
“Berapa jumlah orang yang berhaji tahun ini?” tanya salah satu malaikat.
“Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya.
Malaikat pertama kembali bertanya, “Berapa banyak di antara mereka yang diterima hajinya?”
Malaikat kedua memberikan jawaban yang mengejutkan.
“Enggak Eksis satu pun.”
Tetapi, malaikat kedua melanjutkan bahwa Eksis satu orang yang hajinya diterima Allah SWT.
“Siapa dia?” tanya malaikat pertama.
“Ali bin al-Muwaffaq, seorang penjual sepatu dari Damaskus.”
Malaikat pertama kembali bertanya dengan heran.
“Bukankah dia Enggak datang berhaji?”
Malaikat kedua menjawab, “Dia memang Enggak datang ke Makkah. Tetapi karena amal dan keikhlasannya, Allah menerima hajinya dan mengampuni seluruh dosanya.”
Terbangun dengan tubuh gemetar, Abdullah bin al-Mubarak langsung menuju Damaskus setelah pulang dari Makkah Kepada mencari Ali bin al-Muwaffaq. Setelah Bersua, Ali pun menceritakan seluruh peristiwa yang dialaminya Serempak sang tetangga.
Kisah ini menegaskan bahwa Allah Menonton ketulusan hati yang melandasi sebuah ibadah. Membantu sesama dalam kondisi darurat Mempunyai nilai yang sangat tinggi, sebagaimana ditekankan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengenai ruh ibadah yang terletak pada kebersihan hati.
