Dari Futsal Amatir hingga Piala Dunia 2026, Taha Ali Ukir Kisah Inspiratif Serempak Swedia

Foto BeritaJatim.com

Surabaya (Liputanindo.id)  – Nama Taha Ali mungkin belum setenar Viktor Gyökeres atau Alexander Isak. Tetapi menjelang Piala Dunia FIFA 2026, winger Tim Nasional Sepak Bola Swedia itu Bahkan menjadi salah satu sosok yang paling menarik perhatian.

Di balik pemanggilannya ke skuad Swedia Kepada Piala Dunia 2026, tersimpan kisah perjuangan yang jauh dari jalur karier pesepak bola profesional pada umumnya. Taha Ali bukan produk akademi elite Eropa. Ia juga bukan pemain muda yang sejak remaja digadang-gadang menjadi bintang masa depan.

Sebaliknya, pemain berusia 27 tahun tersebut menghabiskan sebagian masa mudanya di lapangan futsal dan kompetisi kasta Dasar Swedia sebelum akhirnya menembus Mimbar sepak bola dunia.

Lahir dari Keluarga Pengungsi Somalia
Taha Abdi Ali lahir pada 1 Juli 1998 di kawasan Spånga-Tensta, Stockholm, Swedia. Kedua orang tuanya merupakan imigran Somalia yang meninggalkan negara asal mereka akibat perang Kerabat pada awal 1990-an. Mereka kemudian menetap di Swedia dan membangun kehidupan baru bagi keluarga mereka.

Tumbuh di Tensta, salah satu kawasan multikultural di Stockholm, Taha mengenal sepak bola sejak usia Awal. Tetapi perjalanan menuju level profesional Tak berjalan mulus.

Ali mengawali karier di klub lokal Spånga IS sebelum berpindah ke beberapa tim muda lainnya. Meski Mempunyai Bakat, ia Tak langsung menembus sepak bola elite seperti banyak pemain Swedia lainnya.

Mengasah Kemampuan di Lapangan Futsal
Salah satu fase paling Istimewa dalam perjalanan karier Taha Ali adalah keterlibatannya di dunia futsal. Antara 2017 hingga 2020, ia aktif bermain Kepada klub futsal Nacka Juniors dan Hammarby Futsal. Kemampuannya mengolah bola di ruang sempit Membangun namanya bahkan dipanggil memperkuat Tim Nasional Futsal Swedia pada ajang Nordic Futsal Cup 2018. Selama periode tersebut, ia mencatat enam penampilan dan satu gol Serempak tim futsal nasional Swedia.

Kemampuan dribel dan kontrol bola yang menjadi Tanda khasnya Begitu ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman bermain futsal.

Pernah Bekerja Sebagai Satpam
Tak banyak yang Mengerti bahwa sebelum menjadi pesepak bola profesional, Taha Ali sempat bekerja sebagai petugas keamanan atau satpam Kepada memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut sejumlah laporan media Eropa, Sekeliling enam tahun Lampau ia Lagi membagi waktunya antara bekerja sebagai petugas keamanan di pusat perbelanjaan dan bermain futsal pada musim dingin Swedia.

Begitu banyak pemain seusianya sudah bermain di Aliansi profesional, Ali Lagi berjuang mencari jalan Kepada mewujudkan mimpinya sebagai pesepak bola.

Menembus Sepak Bola Profesional
Titik balik datang pada 2020 ketika klub kasta Dasar Swedia Memperhatikan potensinya dan memberinya kesempatan bermain sepak bola 11 Musuh 11 secara lebih serius.

Kariernya kemudian berkembang melalui sejumlah klub seperti Sundbybergs IK, IFK Stocksund, Sollentuna FK, Örebro SK, Västerås SK, hingga Helsingborgs IF. Perjalanan bertahap itu akhirnya membawanya ke salah satu klub terbesar Swedia, Malmö FF, pada 2023.

Di Malmö FF, Taha Ali berkembang menjadi salah satu pemain sayap paling berbahaya di kompetisi Allsvenskan. Teknik tinggi, kecepatan, dan kemampuan melewati Musuh membuatnya Segera menjadi favorit suporter.

Mimpi Menjadi Realita di Timnas Swedia
Penampilan impresif Serempak Malmö FF membuka jalan menuju Tim Nasional Swedia.

Ia menjalani debut Dunia senior pada Januari 2024 dalam pertandingan melawan Estonia. Begitu itu, sedikit yang memprediksi dirinya akan menjadi bagian dari proyek Swedia menuju Piala Dunia 2026.

Tetapi konsistensinya Serempak Malmö FF Membangun Instruktur Swedia akhirnya memasukkan namanya ke dalam skuad Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut langsung mendapat perhatian besar, Bagus di Swedia maupun komunitas diaspora Somalia di berbagai negara.

Simbol Asa Diaspora Somalia
Masuknya Taha Ali ke skuad Piala Dunia 2026 Mempunyai Maksud lebih luas daripada sekadar pencapaian olahraga.

Di kalangan diaspora Somalia, kisahnya dianggap sebagai simbol keberhasilan generasi muda keturunan Somalia yang tumbuh dan berkembang di Eropa. Bahkan Percakapan di komunitas Somalia Dunia menyebut pemanggilannya sebagai momen yang membanggakan bagi masyarakat Somalia di seluruh dunia.

Kini, dari lapangan futsal dan pekerjaan sebagai petugas keamanan hingga Mimbar terbesar sepak bola dunia, Taha Ali menjadi bukti bahwa jalan menuju kesuksesan Tak selalu harus ditempuh melalui jalur yang lazim.

Ketika Piala Dunia 2026 dimulai di Amerika Perkumpulan, Kanada, dan Meksiko, winger berdarah Somalia itu akan membawa kisah perjuangan yang mungkin menjadi salah satu cerita paling inspiratif di turnamen tersebut. [kun/berbagai sumber]