Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Liputanindo.id/Richard Alkhalik
Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tak menyiapkan intervensi Tertentu Kepada menghadapi tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Alasan, menurut dia, Mendasar ekonomi yang kuat Bisa menjadi andalan Kepada menopang pergerakan IHSG.
“Kalau dari saya sih nggak Terdapat (intervensi). Yang Krusial adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik Lalu. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” kata Purbaya Begitu dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 4 Juni 2026.
IHSG Lalu mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis dengan penurunan lebih dari 4 persen.
Mendasar ekonomi diyakini solid
Pada kesempatan sebelumnya, Purbaya mengungkapkan optimisme bahwa IHSG Bisa berbalik menguat didukung oleh solidnya Mendasar perekonomian. Purbaya menyebut berbagai indikator perekonomian Bisa mendorong IHSG kembali bergerak positif.
Salah satunya Yakni inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang Tetap dalam rentang Sasaran Bank Indonesia 2,5 plus minus satu persen.

(Ilustrasi. MI/Susanto)
Selain itu, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh sebesar 16,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Bendahara negara menilai gejolak IHSG Begitu ini bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Dia pun memastikan bakal menjaga kinerja perekonomian sekaligus sentimen pasar tetap Konsisten.
Krisis kepercayaan dari investor
Per Kamis, 4 Juni 2026 pukul 10.02 WIB, IHSG tercatat melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius. Menurut dia, pelemahan pasar saham Tak hanya dipengaruhi sentimen eksternal, Tetapi juga diperparah oleh sejumlah Unsur domestik.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar Anggaran asing yang menjadi Unsur yang mendorong investor mengurangi investasinya pada aset berisiko di Indonesia.
“Kondisi itu terlihat kontras karena sebagian besar bursa saham Asia Malah bergerak menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari Unsur internal dibandingkan eksternal,” jelasnya.
