INDEF: Kebijakan DHE SDA berpotensi perkuat likuiditas valas Himbara

INDEF: Kebijakan DHE SDA berpotensi perkuat likuiditas valas Himbara

Jakarta (ANTARA) – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan kebijakan baru devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) berpotensi memperkuat likuiditas valuta asing (valas) di Himpunan Bank Punya Negara (Himbara).

“Kebijakan DHE SDA yang mulai berlaku penuh pada Juni 2026 berpotensi memperkuat posisi likuiditas valas Himbara secara signifikan,” kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman Begitu dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Dengan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor SDA di dalam negeri, Rizal berpendapat Kategori dolar dari sektor batu bara, industri kelapa sawit (crude palm oil/CPO), mineral, dan migas yang selama ini banyak tersimpan di luar negeri akan lebih banyak masuk ke sistem perbankan nasional.

Rizal menyebut kondisi itu Krusial mengingat tekanan eksternal sepanjang 2026 Lagi cukup tinggi, tecermin pada volatilitas rupiah yang sempat bergerak mendekati Rp17.000–17.300 per dolar AS. Selain itu, juga terjadi penurunan cadangan devisa dari Sekeliling 151,9 miliar dolar AS menjadi Sekeliling 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.

“Tambahan likuiditas dolar di Himbara dapat memperkuat CASA valas, kapasitas trade finance, dan memperbesar ruang intervensi pasar valas domestik tanpa terlalu membebani cadangan devisa Bank Indonesia,” tambahnya.

Rizal juga menilai sentimen pasar cenderung positif bagi saham Himbara, karena berpotensi memperkuat struktur pendanaan dan potensi pendapatan treasury di tengah Bangsa Mengembang Dunia yang Lagi tinggi.

Tetapi, Rizal menyoroti, Akibat efektivitas kebijakan ini tetap sangat bergantung pada desain implementasi dan kepercayaan pelaku ekspor.

Apabila skema penempatan DHE dianggap terlalu kaku dan Tak kompetitif dari sisi fleksibilitas maupun imbal hasil (yield), maka terdapat risiko eksportir melakukan penyesuaian transaksi, termasuk pengalihan penempatan devisa ke luar negeri atau praktik underinvoicing.

Di samping itu, konsentrasi likuiditas valas di Himbara juga berpotensi memicu ketimpangan likuiditas di industri perbankan nasional, terutama bagi bank swasta yang selama ini mengandalkan Biaya eksportir.

Karena itu, kata Rizal, DHE SDA memang dapat menjadi penyangga Krusial Buat memperkuat ketahanan eksternal dan stabilitas sektor keuangan, tetapi Tak Mekanis menjadi solusi tunggal menjaga rupiah.

“Unsur Mendasar seperti arus modal asing, kredibilitas fiskal, yield Surat Berharga Negara (SBN), serta persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap menjadi penentu Primer stabilitas sektor keuangan nasional,” ujarnya.