Di antara hamparan sawah yang menguning setiap musim, Sumedang sedang menapaki perjalanan panjang menuju pertanian yang lebih Tangkas dan berkelanjutan.
Sumedang (ANTARA) – Hamparan sawah di Kecamatan Sumedang Selatan mulai menguning di pagi hari, menandakan bahwa musim panen telah tiba.
Di Rendah sinar Surya yang baru saja muncul dari balik perbukitan, para petani sibuk memanen padi yang telah mereka rawat selama berbulan-bulan. Bunyi mesin perontok bersahut-sahutan, seiring dengan tumpukan gabah yang perlahan memenuhi karung-karung di tepi sawah.
Bagi para petani, momen panen bukan sekadar penanda berakhirnya satu siklus kerja, melainkan awal dari Cita-cita baru.
Tetapi, di balik keindahan hamparan padi yang menguning itu, tersimpan narasi besar tentang bagaimana Kabupaten Sumedang menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca.
Kini, Sumedang menjadi salah satu daerah dengan surplus beras di Jawa Barat. Produksi padi yang melampaui kebutuhan konsumsi lokal menjadikan kabupaten ini sebagai salah satu penopang pasokan pangan tingkat regional.
Meski demikian, mempertahankan capaian tersebut bukanlah perkara mudah. Tantangan seperti ketersediaan air, infrastruktur irigasi, adopsi teknologi pertanian, hingga isu regenerasi petani harus Lanjut dijawab agar swasembada beras dapat terjaga dari musim ke musim.
Menjaga Surplus
Di balik setiap musim panen, terdapat kerja keras ribuan petani di berbagai Kawasan Sumedang. Dari Buahdua hingga Ujungjaya, aktivitas bercocok tanam berlangsung Nyaris sepanjang tahun Buat memastikan pasokan pangan tetap tersedia.
Hasil Konkret dari upaya tersebut terlihat pada capaian produksi padi tahun 2025 yang mencapai Sekeliling 294 ribu ton. Nomor ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Sumedang yang hanya Sekeliling 103 ribu ton per tahun.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Tono Suhartono, menjelaskan bahwa selisih antara produksi dan kebutuhan tersebut menghasilkan surplus signifikan.
“Produksi kita Sekeliling 294 ribu ton, sementara kebutuhan hanya 103 ribu ton. Artinya, kita Mempunyai surplus cukup besar, lebih dari 190 ribu ton,” ujarnya.
Surplus ini menjadi modal Krusial bagi ketahanan pangan daerah. Kagak hanya memenuhi kebutuhan lokal, produksi beras Sumedang juga berkontribusi terhadap pasokan pangan di Kawasan lain di Jawa Barat. Kontribusi terbesar datang dari kecamatan-kecamatan sentra produksi. Kecamatan Buahdua tercatat sebagai penghasil tertinggi dengan produksi Sekeliling 43,19 ribu ton, diikuti oleh Conggeang (32,18 ribu ton), Ujungjaya (30,25 ribu ton), Tanjungkerta (24,68 ribu ton), dan Sumedang Selatan (23,9 ribu ton).
Kawasan-Kawasan ini menjadi tulang punggung produksi pangan Sumedang. Kombinasi hamparan sawah yang luas, dukungan irigasi yang memadai, serta pengalaman petani yang diwariskan lintas generasi menjadi Elemen kunci stabilitas produksi.
Tetapi, Nomor surplus yang besar bukanlah tujuan akhir. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan Akibat perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, menjaga produktivitas pertanian adalah pekerjaan rumah yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
