Tebu dan janji kedaulatan – ANTARA News

Tebu dan janji kedaulatan

Surabaya (ANTARA) – Hamparan tebu di Jawa Timur bukan sekadar bentang pertanian yang tumbuh memanjang di Rendah Mentari kemarau. Di balik batang-batang tinggi itu, tersimpan cerita panjang tentang ketahanan pangan, sejarah industri, nasib petani, hingga pertaruhan besar negara Kepada mengurangi ketergantungan impor gula.

Truk-truk pengangkut tebu yang mengular menuju pabrik gula di Kediri, Situbondo, Malang, hingga Magetan, beberapa pekan terakhir menjadi penanda bahwa denyut industri gula Jawa Timur kembali bergerak. Mesin giling dipacu Dekat tanpa Waktu Waktu kosong. Sirene pabrik berbunyi. Petani menunggu hasil rendemen. Pemerintah mengikhtiarkan swasembada.

Jawa Timur memang Tetap menjadi jantung gula Nasional. Lebih dari separuh produksi gula Indonesia berasal dari provinsi ini. Data Pemprov Jatim menunjukkan produksi gula kristal putih dari daerah itu pada 2025 mencapai Sekeliling 1,34 juta ton, tertinggi dalam satu Dasa warsa. Bilangan itu Membikin Jawa Timur jauh melampaui provinsi lain sebagai pemasok gula Nasional.

Optimisme pemerintah pun menguat. Program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu dilakukan serentak di berbagai daerah. Kediri, Probolinggo, Magetan, hingga Malang, berlomba memperluas lahan dan meningkatkan produktivitas. Pemerintah pusat menempatkan Jawa Timur sebagai tulang punggung Sasaran swasembada gula konsumsi Nasional 2026.

Di balik itu, sejarah gula di Indonesia mengajarkan satu hal Krusial. Swasembada bukan sekadar soal panen melimpah atau mesin pabrik yang Lalu berputar. Persoalannya jauh lebih rumit dan sering kali tersembunyi di balik Bilangan produksi.

Arsip – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) didamping Direktur Istimewa PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi (kanan) memegang cangkul Begitu tanam tebu perdana program bongkar ratoon di Desa Ngletih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (23/5/2026). Gubernur Jawa Timur secara simbolis memimpin tanam tebu perdana program bongkar ratoon serentak di 15 titik yang tersebar di 11 kabupaten sebaga upaya menyediakan bibit tebu unggul guna menuju swasembada gula nasional. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.)

Ambisi baru

Industri gula Indonesia sesungguhnya hidup di antara dua Era. Di satu sisi, Terdapat semangat modernisasi dan Sasaran besar negara. Di sisi lain, Tetap berdiri pabrik-pabrik Sepuh peninggalan kolonial yang bekerja dengan efisiensi terbatas.

Banyak pabrik gula di Jawa Timur memang mulai melakukan revitalisasi, tetapi persoalan mendasar belum sepenuhnya selesai. Rendemen tebu di sejumlah pabrik Tetap berada pada kisaran 7 hingga 8 persen. Artinya, dari 100 kilogram tebu yang digiling, gula yang dihasilkan Tetap relatif terbatas. Karena itu, peningkatan kualitas bibit, peremajaan tanaman, hingga efisiensi penggilingan menjadi pekerjaan Krusial dalam upaya mengejar swasembada.

Bilangan itu menunjukkan bahwa produktivitas Tetap berpotensi Kepada dioptimalkan, Bagus di tingkat kebun maupun pabrik. Elemen cuaca, kualitas bibit, sistem irigasi, hingga waktu pengangkutan tebu sangat menentukan kadar gula dalam batang tebu.

Karena itu, program bongkar ratoon menjadi langkah Krusial. Tebu yang terlalu Lamban dipertahankan, tanpa peremajaan akan mengalami penurunan produktivitas. Pemerintah, kini mendorong penggunaan varietas unggul yang lebih tahan kekeringan dan Mempunyai kadar gula lebih tinggi.