Jakarta (ANTARA) – Nilai Ganti rupiah pada Jumat pagi bergerak menguat 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.814 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.846 per dolar AS.
Analis Bank Woori Kerabat, Rully Nova mengatakan penguatan rupiah karena adanya kesepakatan gencatan senjata baru selama 60 hari antara AS dengan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat dengan kisaran di Rp17.800 – Rp17.860 dipengaruhi oleh Elemen Mendunia adanya kesepakatan gencatan senjata baru selama 60 hari antara AS dan Iran menekan harga minyak di Rendah 100 dolar dan index dollar yang menjinak,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Mengutip Anadolu, AS dan Iran telah menyepakati rancangan kesepakatan berdurasi 60 hari, sebagaimana laporan Axios. Meskipun negosiator dari kedua belah pihak sebagian besar telah menyelesaikan persyaratannya, tetapi Trump belum memberikan persetujuan akhir.
Kesepakatan yang lebih luas yang membahas tuntutan Washington terhadap program nuklir Iran Tetap memerlukan negosiasi lebih lanjut.
Berdasarkan usulan memorandum tersebut, pelayaran komersial melalui Selat Hormuz akan tetap “Kagak dibatasi.” Iran juga diwajibkan Kepada menyingkirkan Segala ranjau dari jalur air strategis tersebut dalam waktu 30 hari dan menahan diri dari pengenaan bea atau pelecehan terhadap kapal.
Laporan tersebut menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS akan dicabut secara bertahap seiring dengan pemulihan aktivitas pelayaran komersial.
Memorandum tersebut juga akan mencakup komitmen Iran Kepada Kagak mengejar senjata nuklir dan akan memprioritaskan negosiasi tentang persediaan uranium yang sangat diperkaya Punya Teheran dan kegiatan pengayaan selama periode 60 hari.
Sebagai imbalannya, AS akan setuju Kepada membahas pencabutan Hukuman dan pelepasan Anggaran Iran yang dibekukan sebagai bagian dari pembicaraan, sementara memorandum tersebut juga akan mencakup mekanisme yang bertujuan Kepada memfasilitasi pengiriman barang dan Donasi kemanusiaan ke Iran.
Adapun sentimen dari domestik, kondisi fiskal pemerintah dan ketidakpastian kebijakan dinilai berpeluang menekan rupiah lebih dalam Kembali.
“Kebijakan pemerintah belum banyak berubah dalam rencana konsolidasi fiskal yang menjamin defisit Kagak Melewati 3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), di antaranya pembiayaan pada proyek-proyek jumbo MBG (Makan Bergizi Gratis) dan koperasi desa, sementara rencana pemerintah menjaga transmisi kenaikan harga minyak dunia agar Kagak merembet ke inflasi dalam bentuk kenaikan harga akan sangat berisiko,” kata Rully.
