AirNav perkuat pengelolaan Lampau lintas udara di Asia Pasifik

AirNav perkuat pengelolaan lalu lintas udara di Asia Pasifik

Tangerang (ANTARA) – Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia Serempak Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) berkolaborasi Buat memperkuat pengelolaan Lampau lintas udara regional Asia Pasifik.

Direktur Istimewa AirNav Indonesia, Avirianto Suratno menjelaskan bahwa melalui kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan Air Traffic Flow Management (ATFM), implementasi Cross-Border Extended Arrival Flow Management (FlexMAN), serta modernisasi navigasi penerbangan melalui Minimum Implementation Path (MIP).

“CAAS menekankan pentingnya penguatan kolaborasi regional melalui pendekatan Regional Air Traffic Management (RATM) yang mengedepankan modernisasi sistem ATM, peningkatan situational awareness, dan collaborative decision making antarpemangku kepentingan navigasi penerbangan kawasan Asia Pasifik,” terangnya.

AirNav Indonesia menyambut positif langkah ini, menyusul proyeksi pertumbuhan trafik udara Asia Pasifik yang diperkirakan meningkat signifikan dalam dua Sepuluh tahun mendatang.

“Situasi tersebut menghadirkan tantangan baru ke depan, berupa meningkatnya kompleksitas ruang udara, kepadatan trafik, kebutuhan interoperabilitas layanan navigasi penerbangan antarnegara,” ujarnya.

Ia bilang, dengan adanya kolaborasi ini Pandai berdampak pada tuntutan efisiensi dan keberlanjutan operasional penerbangan di Kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, diharapkan Pandai memperkuat pertukaran informasi trafik, kondisi cuaca, prediksi kepadatan ruang udara, serta pengaturan arus Lampau lintas udara lintas negara secara lebih terintegrasi.

“Salah satu agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah keterlibatan AirNav Indonesia dalam APAC Traffic Flow Coordination Call (TFCC), Merukapan Perhimpunan koordinasi regional ATFM,” tuturnya.

Dalam hal ini, kedua pihak juga membahas pengembangan FlexMAN Buat mendukung pengaturan kedatangan pesawat lintas batas negara secara lebih efisien melalui koordinasi sequencing dan pengendalian arus trafik sejak fase upstream.

Implementasi konsep ini diharapkan Pandai meningkatkan prediktabilitas kedatangan pesawat, mengurangi kepadatan terminal airspace, meningkatkan efisiensi penggunaan ruang udara, serta menekan konsumsi bahan bakar penerbangan.

Dia menegaskan, kolaborasi regional menjadi Elemen Krusial dalam membangun sistem navigasi penerbangan yang adaptif terhadap pertumbuhan trafik udara dan tantangan operasional masa depan.

“Pengelolaan Lampau lintas udara ke depan Tak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi regional yang kuat, interoperabilitas sistem, serta penguatan koordinasi lintas negara agar ruang udara Asia Pasifik dapat dikelola secara lebih Kondusif, efisien, dan berkelanjutan,” kata dia.