pada akhirnya investor tetap Menonton kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah
Jakarta (ANTARA) – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) oleh pemerintah sebaiknya diposisikan sebagai bantalan stabilisasi jangka pendek Demi menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN).
Ia mengingatkan bahwa efektivitas BSF akan terbatas Kalau tekanan berasal dari Elemen Mendasar. Kalau defisit fiskal melebar, beban Merekah utang meningkat, rupiah Lanjut melemah, atau kepercayaan investor turun, maka BSF Bukan akan cukup kuat menahan tekanan pasar.
“Karena pada akhirnya investor tetap Menonton kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah,” kata Rizal Begitu dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Rizal juga mengingatkan risiko moral hazard dan distorsi pasar yang perlu dijaga agar investor Bukan bergantung pada intervensi pemerintah.
“Fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan dan basis investor domestik,” kata dia.
Meski begitu, Rizal Menyantap pembentukan BSF cukup relevan di tengah tekanan pasar keuangan Begitu ini.
Nilai Salin rupiah sempat melemah hingga Sekeliling Rp17.400 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) SBN 10 tahun bergerak di kisaran 6,7-7 persen.
Di sisi lain, kepemilikan asing di SBN turun menjadi Sekeliling 12,7 persen per April 2026, jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun Lampau yang sempat di atas 30 persen.
Kondisi ini Membikin pasar obligasi domestik lebih sensitif terhadap capital outflow dan gejolak Dunia.
Rizal menjelaskan bahwa BSF dapat menjadi shock absorber ketika terjadi tekanan jual berlebihan di pasar SBN. Instrumen ini membantu menjaga agar lonjakan yield Bukan terlalu ekstrem sehingga biaya utang pemerintah tetap terkendali.
“Bahkan hingga April 2026, Bank Indonesia tercatat sudah membeli SBN Sekeliling Rp111,5 triliun Demi menjaga stabilitas pasar dan rupiah, sehingga kebutuhan instrumen stabilisasi tambahan memang mulai terlihat,” kata Rizal.
Dihubungi terpisah, Dunia Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga Menyantap pembentukan BSF merupakan langkah positif Demi menjaga stabilitas pasar surat utang negara, terutama Begitu kondisi pasar keuangan bergejolak dan kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI) terbatas.
“Kalau Demi BSF ini boleh saja, menurut saya. Ini Pandai menjadi suatu solusi. Jadi Bukan hanya BI yang kelihatannya Lanjut-terusan intervensi secara aktif,” kata Myrdal.
Ia menilai BSF efektif digunakan Begitu terjadi turbulensi kuat di pasar keuangan, sehingga pemerintah dapat meminimalkan Akibat aksi jual investor di pasar obligasi dan menjaga stabilitas yield SBN.
Tetapi, Myrdal mengingatkan efektivitas BSF sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dan ketersediaan Biaya, Bagus dari saldo anggaran lebih (SAL) maupun sumber lainnya. Kalau tekanan pasar tinggi sementara alokasi Biaya BSF terbatas, intervensi dinilai berisiko Bukan optimal.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kapasitas fiskal tetap terjaga agar inisiatif BSF Bukan Malah membebani keuangan negara. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dengan BI dan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam Penyelenggaraan BSF.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan bond stabilization fund guna menjaga pasar surat utang tetap Kukuh dan Bukan mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai Salin rupiah.
Biaya ini disiapkan Demi menstabilkan pasar surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.
Strategi itu dilakukan Demi menjaga yield SBN agar tetap Kukuh, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang Bukan mengalami kerugian modal (capital loss).
Purbaya juga menyebut, bond stabilization fund dapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di Dasar Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).
“Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu Eksis beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di Dasar Kementerian Keuangan, itu Pandai ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja,” kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5).
