Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau karena bambu merupakan material berkelanjutan yang Mempunyai prospek besar
Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan penguatan sumber daya Sosok (SDM) dan ekosistem industri bambu nasional melalui Program Akademi Komunitas Bambu (AKB) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Industri Agro.
Dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bambu merupakan salah satu komoditas berbasis sumber daya alam terbarukan yang Mempunyai potensi besar Demi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan.
“Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau karena bambu merupakan material berkelanjutan yang Mempunyai prospek besar Demi industri Pembangunan, furnitur, kerajinan, hingga berbagai produk inovatif lainnya,” ujar Menperin.
Program AKB difokuskan pada penguatan industri bambu melalui penyiapan bahan baku siap Mengenakan yang berkualitas. Dalam pelaksanaannya, peserta dibekali kemampuan teknis terkait penanaman, pengawetan, dan pengolahan bambu guna mendukung kebutuhan sektor hilir.
Melalui program tersebut, menurut dia, akan terjadi peningkatan kualitas produk bambu nasional agar Bisa Mempunyai daya saing yang lebih kuat di pasar domestik maupun Global.
Lebih lanjut, Pelaksana tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan Penyelenggaraan AKB telah diinisiasi di Bali pada tahun 2025 dan berhasil menghasilkan 25 Master Bambu melalui pendekatan training of trainers (ToT).
“Program Akademi Komunitas Bambu dirancang Demi membangun komunitas SDM unggul yang Bisa menjadi penggerak pengembangan industri bambu di daerah. Pusat perhatian pengembangannya adalah Demi membentuk material center/pusat logistic bambu penyedia bahan baku siap Mengenakan,” ungkap Putu.
Berdasarkan hasil Penilaian dan monitoring, Penyelenggaraan AKB Tahun Anggaran 2026 akan difokuskan pada peningkatan kualitas, volume bahan baku dan teknik pascapanen, serta treatment atau pengawetan Demi mendukung kebutuhan industri hilir, dengan komposisi pelatihan sebesar 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan.
Disampaikan dia, peserta program diprioritaskan berasal dari penyedia bahan baku bambu yang berpotensi menjadi trainer di daerah masing-masing. Selain dilaksanakan di Bali, Program AKB juga direncanakan diperluas ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam pengembangan komunitas tersebut, Kementerian Perindustrian juga berusaha menjalin keterlibatan sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu upaya yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan PT KT&G Demi pembangunan fasilitas pendukung AKB berupa asrama pelatihan dan fasilitas pengawetan bambu.
Lebih lanjut, ia menyampaikan Kabupaten Bangli, Bali diidentifikasi sebagai salah satu Kawasan potensial dalam pengembangan ekosistem bambu karena didukung ketersediaan lahan, fasilitas logistik bambu, serta mesin pengolahan yang telah tersedia.
Pihaknya, kata dia, sudah melakukan koordinasi terkait kesiapan pengembangan ekosistem bambu dan rencana dukungan CSR dalam kunjungan kerja yang dilakukan.
Putu menegaskan penguatan industri bambu nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar Bisa tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan Dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap industri bambu nasional dapat berkembang menjadi salah satu sektor unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan yang Bisa menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkasnya.
